All Posts By

Maurilla Imron

Finance Hidup Minimalis

Pentingnya Dana Darurat dan Tips untuk memilikinya

13th April 2020 - 1 min read

Di masa sekarang ini, aku semakin yakin bahwa dana darurat itu merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan oleh rumah tangga atau individu. Alasannya karena dana darurat adalah salah satu hal yang bisa kita kontrol di antara hal-hal yang ada di luar kendali kita, seperti contohnya di masa pandemi saat ini. Di video ini aku bercerita mengenai pentingnya dana darurat dan juga tips untuk mempunyainya. Paling penting, stay safe and healthy physically juga mentally. Love and light

 

Baby and motherhood

Tips untuk Minimalis mama to be

13th April 2020 - 1 min read

Aku tahu banget di saat sekarang ini, ada Ibu-ibu yang sedang mengandung yang kepikiran dengan keadaan sekarang ini, dengan ketidakpastian. Tapi satu yang pasti adalah you have so much exciting times ahead of you!! Jadi semangat yaaa untuk persiapan menyambut bayi. Banyak yang mengira juga akan sulit menjadi minimalis dengan punya anak karena keperluannya banyak, tapi dengan cara berpikir yang kita ubah, sebetulnya mungkin kok. 1 hal adalah tidak ada definisi minimalis yaa.. Yang untukmu esensial belum tentu esensial untukku, dan begitu juga sebaliknya. You do you mama! Yang paling penting, tidak hanya berusaha minimalis dalam benda tapi juga dengan cara berpikir dan mental. Semangat!!

 

Baby and motherhood

Cerita Kelahiran Alana – Persalinan

13th April 2020 - 9 min read

………..

Malam itu pulang dari Rumah Sakit aku diem aja, di mobil pun diam berusaha mengubur mimpi untuk waterbirth. Sampai malam dan tidur pun aku masih dalam proses accepting, ikhlas dan berserah. Besok paginya, aku bilang Damar.. “Ayo hari ini kita ke rumah sakit”.

Hari itu hari Jum’at tanggal 18 Oktober 2019, kami melakukan hal yang tidak kami antisipasi sama sekali sebelumnya.. ke rumah sakit, daftar untuk melahirkan dan opname induksi. Sama sekali nggak kebayang. Bahkan di rumah sakit pun disorientasi nggak tahu harus kemana. Hari itu kami ditemani mamaku dan mama Damar. Kami memilih kamar dan mulai membuat kamar terasa nyaman dengan barang-barang yang kami bawa dari rumah (gym ball, lampu remang, difusser). Malam itu, aku diberi obat puyer induksi yang pertama… Untuk kemudian setiap 4 jam dicek progress dan meminum kembali. Besok paginya mulai ada bercak-bercak yang menandakan bahwa mulut rahimku melunak dan dicek dalam, terjadi pembukaan 1 (alhamdulillah).. kemudian obat pun dihentikan dengan harapan untuk memberi kesempatan tubuh melanjutkan proses alaminya. Dr Hariyasa tau betul kami ingin mendapatkan kelahiran yang senatural mungkin dan pervaginam, dia pun melakukan yang dia bisa untuk mendapatkannya.

Semua proses dilakukan oleh Bidan, bukan dr Hariyasa langsung, tapi dengan arahan dan observasi dari dr Hariyasa melalui telpon. Setelah menunggu, ternyata tidak ada kenaikan pembukaan yang signifikan yang artinya puyer induksi harus diberikan lagi. Sampai siang masih sama, sore diberikan puyer lagi, malamnya masih sama, besoknya dicek dalam dan akhirnya ketemu dengan dr Hariyasa-nya sendiri. Kali itu tidak hanya cek dalam tapi juga cek USG. Yang hasilnya bikin kita kaget dan jadi penentu langkah apa yang harus dilakukan setelahnya..

Dr Hariyasa bilang, posisi Alana tidak optimal dengan kepala yang menunduk sehingga sekeras apapun dia di dalam sana berusaha, akan sulit untuk menambah bukaan. Selain itu bentuk rahimku yang agak maju ke depan (sedikit gantung), membuat kondisi semakin sulit untuk progress. Sedangkan, air ketuban pun semakin sedikit.

Namun saat itu, kontraksi terus bertambah.. Aku baru tahu, bahwa kontraksi bertambah tidak berarti pembukaan juga akan bertambah. Aku sudah  2,5 hari atau 48 jam lebih berjuang untuk lahir normal.. dr Hariyasa tau sekali itu dan bukan tanpa alasan dia akhirnya mengatakan …..

dengan kondisi seperti itu dan sudah lama kalian menunggu, saya menyarankan untuk dilakukan operasi‘. Ambyaaaaarrrrrrr rasanya.. tapi belum nangis  karena masih berusaha mencerna plus malu nangis di depan dokter hehe. Sampai di jalan keluar saat dr Hariyasa akan menutup gorden, dia bilang …..

‘saya tau sekali kalian ingin melahirkan secara natural, saya salut sekali dengan perjuangannya.. kalian sudah melakukan semua, tapi rencana Tuhan bisa berbeda’. Disitu udah nggak kebendung lagi.. Pupus semua harapan dan mimpiku untuk melahirkan secara natural ..

Cuma bisa nangis sambil dipeluk Damar.. He was everything. Aku nggak kebayang ngelewatin ini sendirian.. Disitu aku mulai bersyukur. Aku masih menangis sampai tidak berani masuk ke ruang inap kami karena di dalam situ ada orang tua kami berdua. Akhirnya kami berdua duduk dipojokan berpelukan…… sedih tapi dengan cepat kami kembali pada pijakan kami untuk berjuang.

Kira-kira gini proses cernanya,

Kami sudah melakukan semua yang aku bisa, pun dari semenjak kehamilan

Adik bayi juga bukan tidak berjuang, dia pasti berjuang keras di dalam sana untuk keluar

Yang paling penting dari ini semua adalah ketenanganku, kesehatanku dan bayiku

Dari situ aku mulai mengatur nafas dan mulai senang karena sebentar lagi akan ketemu adik bayi yang tumbuh di rahimku….

 

Setelah itu pun kami memutuskan untuk memberi kabar kepada orangtua, support dari mereka luar biasa! Kayanya mereka juga sudah nggak sabar untuk ketemu dengan cucunya hehe dan sebetulnya mereka hanya ingin apapun yang terbaik untuk kami. Maka saat itu juga kami menelpon bagian kebidanan dan mengatakan kesediaan kami untuk operasi malam itu juga.

Aku pun siap-siap dengan penuh harap dan bahagia, mandi keramas dan pakai lipstik. Berdoa dan mohon restu kepada seluruh orang tua.. Damar pun begitu, dia akhirnya memakai baju kemeja pink yang sudah disiapkan untuk hari spesial itu. Sekitar pukul 7 malam, kami ke atas ditemani orang tua kami berdua. Disana aku masuk hanya boleh ditemani Damar. Proses pertama adalah pasang infus dan ngobrol dengan dokter anastesi (baik sekali orangnya sangat tenang, bikin akupun juga tenang – sungguh, dokter dengan vibe yang positif itu betul-betul segalanya). Dokter anastesi menceritakan bagaimana prosesnya.. Dia pun mulai meng-observasi karakter dari punggung dan tulang belakang, sehingga saat waktunya datang untuk memberi epidural, dia sudah familiar dengan bentuknya.

Ohya, satu hal lagi… saat kami tiba di tempat bersalin, disitu kami baru dikabari bahwa ternyata Damar tidak diperbolehkan untuk masuk dengan alasan akan terlalu banyak orang nanti di dalam. Oeeefffff rasanyaaaaa.. begitu banyak hal yang diluar kendali kami. Aku pun mengatur nafas dengan cepat dan berusaha beradaptasi dengan keadaan secepat mungkin. Sedih hanya sebentar, kemudian kami excited lagi akan segera bertemu dengan Alana.

Kontraksi semakin kencang datang sehingga kali ini aku sudah tidak tahan untuk tidak meringis kesakitan.. Namun berusaha tenang dengan nafas dan percaya bahwa ini semua akan segera berlalu. Damar beri peluk dan cium dia sebelum aku dipindah ke ruang operasi. He really showered me with love that made me believe we will get through this together. Begitu sampai di ruang operasi, terang, tidak kenal siapa-siapa.. Aku disuruh menghadap ke kiri untuk disuntik, sambil menahan kontraksi hebat yang aku rasakan tiba-tiba hitam.. aku nggak ingat lagi…..

Tiba-tiba aku merasa aku dipakaikan gurita, yang artinya proses persalinan telah selesai. Aku tidak mendengar suara Alana sama sekali, sehingga setengah sadar aku bertanya dimana bayinya, apakah semuanya sehat, sempurna dan baik? Alhamdulillah dokter dan suster disitu berkata Iya.

Karena melewati proses caesar aku pun harus masuk ruang observasi, Alana juga harus masuk ke ruang inkubasi juga untuk diobservasi. Sedih rasanya aku tidak bisa IMD dan memeluk Alana saat itu.. tapi hanya sekilas saja, sisanya rasa bersyukur aku masih hidup saat itu dan Alana pun sempurna.

Setelah 1 jam, aku dipindahkan ke ruang inap.. disambut dengan ciuman Damar, Bapak, Mama, dan Papa Mama Damar. Ditunjukkan foto Alana.. cantik, sehat, sempurna. Alhamdulillahh..

 

Pukul 00.30 Malam itu aku pun tenang beristirahat di kamar, dikelilingi dengan kebahagiaan orang tua kami dan juga Damar.. Kami mendapat telepon malam itu mengabarkan bahwa bayinya baru akan dibawa ke kamar besok karena sudah terlalu malam dan aku harus istirahat. Aku pun ikhlas… at this point, aku menerima apapun keadannya, kaya udah dalam accepting mode gitu, walaupun sedih juga membayangkan dia di dalam kotak kecil sendirian 🙁 Malam itu aku excited untuk bertemu Alana paginya. Oya, namanya waktu itu belum Alana yaa.. karena masih ada di antara 2 pilihan 🙂

Besok paginya, kami diketemukan dengan bayinya.. she really is an Alana. And there she was…. My first time ever looking at those 2 beautiful round eyes and my first time ever nursing. My happiness was beyond words! We are so grateful. Thank you Allah. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillahh….

Ini cerita kelahiran Alana.. Tidak ideal namun tetap indah, karena sejatinya Alana lah inti dari semua cerita ini. Thank you Alana… Thank you Allah.

 

Setelah selesai diinfus

 

Happy 🙂

Peluk Lana agar temperaturnya terjaga 36.5-37 derajat celcius

Alana 1 bulan

 

 

Baby and motherhood

Cerita Kelahiran Alana – Mencari Provider di Bali

15th November 2019 - 7 min read

Ngelanjutin cerita ‘Menunggu’ kemarin, aku pengen cerita sekaligus freeze the moment kelahiran Alana kemarin. Supaya bisa dibaca lagi dan bisa jadi bacaan untuk Alana kelak. Yang jelas sekarang aku tahu apa yang dilewati oleh semua perempuan yang memiliki anak, walaupun dengan cara yang berbeda-beda, tapi kurasa sensasinya dan perasaan magis-nya sama. Bersyukur sekali diberi kesempatan itu.

Hari itu, 17 Oktober 2019, waktunya kami check up ke dokter. Ohya, Dokter pilihan kami di Bali adalah dr Hariyasa.. Seorang dokter yang juga sangat spiritual dan percaya pada semua proses hamil juga persalinan yang sifatnya natural dan gentle. Hanya di dokter inilah waterbirth dibolehkan di Bali, karena dia adalah Ketua Asosiasi Waterbirth Indonesia dan merupakan seorang SPOG. Awalnya ingin sekali melahirkan di Bumi Sehat, Klinik Ibu Bidan Robin yang sudah terkenal di dunia. Bumi Sehat adalah sebuah tempat bersalin yang tidak berbayar, semuanya donasi-based. Lokasinya di Ubud, cukup jauh dari Nusa Dua. Sayangnya Ibu Robin tidak memiliki lisensi untuk melahirkan di air. Namun begitu, seluruh filosofi, pembelajaran, pembekalan dan kepercayaan-nya adalah sesuatu yang berbanding lurus dengan yang aku mau dalam kehamilan dan persalinan nanti.

Flashback sedikit ke belakang saat proses pencarian provider persalinan yang cocok di Bali.. 

Sehari sebelum kami terbang ke Indonesia, kami cek up terakhir di Belanda dengan midwife Marianne. Salah satu hal yang membedakan Belanda adalah proses kehamilan dan persalinan ditangani oleh midwife kecuali ada kondisi tertentu. Midwife berarti bahasa indonesia-nya bidan yahh.. si bidan ini menyenangkan sekali, entah karena midwife in general, atau aku beruntung mendapatkan Marianne. They do love their job and do it happily. Setiap kita kesana, kita merasa dirangkul apalagi sebagai orang tua yang belum tahu apa-apa. Vibe-nya enak, positif, happy.. Dan serasa ada personal engagement antara kita dan dia. Intinya, kami punya pengalaman baik yang secara otomatis kami jadikan standar sebagai thick list untuk dokter/bidan kami ke depannya di Indonesia.

Nah sebelum sampai ke Indonesia, aku tanya ke temen yang juga sedang hamil dan tinggal di Bali mengenai SPOG yang bagus. Akhirnya direkomendasikan ke dokter yang menangani dia.. dengan sudah dibekali lebih dulu sebelumnya, bahwa dokter ini agak kaku orangnya. Baiklahhh… Sampai di Indonesia kami pun langsung kontrol ke beliau.. Dan memang betul, kami sama sekali nggak merasakan kehangatannya huhu dan orangnya memang kaku, nggak gemar basa basi. Damar disemprot gara-gara ngeluarin HP untuk ngerekam saat USG sedang diambil 🙁 Di pertemuan pertama itu, semua langsung dicek dengan 3D dll tapi sayangnya tanpa persetujuan atau penjelasan detail. Pun saat mengambil USG, tidak ada penjelasan detil. It’s like he only does his job and get it done gitu rasanya.. He’s also expensive and far from where we live, walaupun itu bukan segalanya, tapi itu menambah pertimbangan bahwa it’s not really worth it to go to him. Dan dari birth plan yang aku ingin jalankan, he’s far from it. Menurut aku penting banget sih untuk cari provider yang tepat, kaya cari jodoh deh, harus memenuhi paling nggak kebanyakan kriteria yang kita inginkan. Let’s say it’s part of the process and we learnt something from it.

So, one day.. Kita mutusin untuk nyetir ke Ubud, selain karena ada janji tapi juga ingin bertandang ke Bumi Sehat.. Tempat Bidan Robin. It’s been my dream to have my labor there.. dan aku selalu membayangkan water birth in nature hehe that’s my wild dream about this pregnancy. Dan pindah ke Bali mendekatkan aku pada mimpi tersebut.

Kami datang ke sana dannn…. Allah pertemukan aku dengan Ibu Robin alhamdulillah sekali.. Orangnya sangat ramah dan dia mendengarkan keluh kesahku mengenai pencarian dokter, dan dia pun langsung menawarkan untuk hari itu daftar, survey tempat dan cek disana. It just worked magically.. Kurasa itu campur tangan Allah yang sangat mengerti harapan dan impianku untuk memberi yang terbaik untuk bayiku. Proses ini sekali lagi mengingatkan aku untuk bersyukur dan percaya akan kebesaranNya. Saat sedang bicara, aku baru tahu bahwa ternyata Bidan Robin sudah tidak diperbolehkan untuk menjalankan waterbirth oleh pemerintah. Dia literally bilang, dia bisa dideportasi kalau ketahuan melakukan praktek itu. Aku cukup sedih dan kecewa, tapi tetap ingin periksa disana dan membuka kesempatan untuk melahirkan disana. Dipikir-pikir, untuk selalu ke Ubud yang jaraknya hampir 1.5 jam dari Nusa Dua tiap bulan mungkin akan menjadi pe er untuk kita. Jadi aku tanya, apakah ada dokter atau bidan di dekat Nusa Dua yang sejalan dengan prinsip Gentle birth, lotus birth dll.. Dan Ibu Robin memberi kartu nama Dr Hariyasa Sanjaya di Renon.

Long story short, kami pun datang ke klinik sederhana beliau di Renon, beliau juga seorang SPOG di Bali Royal Hospital (BROS). Pertama kali bertemu, langsung jatuh hati dengan kehangatan dan penjelasannya. Walau juga tidak banyak bicara, tapi sangat merangkul.. dan menjawab pertanyaan dengan sabar. Terlihat kemurnian hatinyaa.. Kami juga cerita dengan keinginan kami untuk menjalankan waterbirth, dan dia menyambut dengan baik keinginan kami itu. Jadi saat itu juga, aku memutuskan untuk melanjutkan dengan dr Hariyasa. He’s the one.. (Note: Pertemuan pertama agak berbeda dengan setelah-setelahnya karena dr Hariyasa ini sangat sibuk, pasiennya banyaaaaak sekali, jadi perasaan bebas bertanya dan ngobrol panjang tidak terlalu terjadi di pertemuan berikut-berikutnya).


Kembali ke cerita melahirkan, di hari itu, dokter memeriksa lewat USG dan dia cukup kaget karena Lana yang 2 hari sebelumnya dan beberapa minggu sebelumnya stay di 3.6 kg tiba-tiba melonjak jadi 4.1 kg. Kemudian dia menjalankan apa yang namanya Bishop test untuk melihat ketebalan mulut rahimku (harusnya sudah menipis dan mendekati skor tertentu karena aku sudah hamil tua). Tapi ternyata hasilnya tidak memuaskan, dengan kekakuan dan tebal mulut rahimku di hari itu, dokter kuatir berat badan bayi akan bertambah lebih banyak lagi dan menyulitkan untukku yang sangat ingin melalui natural birth. Dokter pun memberi suggestion untuk room in keesokan hari dan dilakukan induksi. Disitu pupuslah harapan untuk melakukan waterbirth.. Melangkah gontai pulang dan berusaha untuk menyerap berita yang baru didengar…..

To be continued.. 

Baby and motherhood

Cerita Kelahiran Alana – Menunggu dan Tips induksi alami

15th October 2019 - 9 min read

Apa saja yang namanya menunggu pastilah bukan jadi hal yang favorit. Mau menunggu apapun itu.. Menunggu kali ini adalah menunggu sesuatu yang baik dan patut untuk disyukuri, yaitu menunggu buah hati yang sudah dipercayakan Tuhan di perutku untuk lahir. Hari ini 40+ weeks, hampir 41 weeks. Antara penuh harap cemas, pasrah, kadang sedih juga merasa dan bertanya apakah usahaku selama ini belum cukup. Yang kurasa adalah segala tips induksi alami yang kami pernah dengar sudah aku dan Damar lakukan, diantaranya adalah sebagai berikut..

  1. Makan nanas
  2. Makan kurma setiap hari
  3. Minum air daun kembang sepatu
  4. Intercourse
  5. Morning speed walking
  6. Banyak jalan
  7. Squat
  8. Yoga
  9. Naik turun tangga
  10. Gym Ball
  11. Komunikasi
  12. Pijat induksi
  13. Hypno therapy

Tapi masih belum ada tanda-tanda yang berarti.. Sebetulnya dari minggu ke 38 sudah mulai sering kerasa kontraksi-kontraksi kecil, kontraksi palsu, kenceng banget rasa perutnya.. tapi begitu saja, nggak rutin dan selalu berhenti. Kontraksi palsu atau braxton hicks ini adalah cara tubuh untuk mempersiapkan otot-otot dan organ-organ untuk proses lahiran nanti. Kalau menurut aku, kontraksi palsu itu adalah caranya bayi di dalem perut untuk memberi tahu bahwa dia sudah hampir siap lahir dan dia akan berusaha bersama denganku untuk keluar.

Dalam penantian ini, Damar dan aku berusaha kalem dan bersabar. Iya itu kuncinya: Sabar! Alhamdulillah aku sangat bersyukur, Damar bisa cukup fleksibel untuk bekerja dari rumah (walau aku juga sadar itu privilege yang nggak bisa di take for granted, so cheers for all of his subordinates and colleagues di kantor yang sudah sangat mengerti dengan kondisi ini). Di usia kehamilan 38 minggu, Damar mulai siaga  di rumah. Dia kerja dari rumah untuk nemenin aku and to keep me calm and peaceful. Karena katanya, salah satu hal yang memacu kontraksi adalah hormon oxytocin, sebuah hormon cinta dan hormon bahagia. Dimana ibu nggak boleh sedikitpun stress, karena bisa membuat persalinan macet. Jadi disitu, aku berusaha nggak mikirin kapan dia akan keluar, hanya fokus ke hal-hal yang positif dan happy-happy aja. And Damar’s present also succesfully keeps me happy. Damar tahu banget bahwa kami hamil bertiga dan dia memiliki pengaruh luar biasa terhadap kesehatan fisik dan juga mentalku. And I am super grateful for that! I love him so much. Buat bapak-bapak diluar sana, jangan berpikir bahwa kalian helpless atau useless, karena sebetulnya yang diminta istri itu nggak banyak. Dan kalian bisa effort sedikit lebih untuk memberi tahu istri kalian bahwa hamil itu bertiga.. dan kalian siap sedia selalu kapanpun dibutuhkan. Hal-hal kecil seperti kata-kata ‘kamu cantik’, ‘i love you’, ‘thank you for carrying our child’, etc is a small thing that matters a lot. A LOT!

Kadang ada perasaan kesal dan jengkel karena banyak ditanya oleh saudara terutama orang tua kami sendiri, sudah kontraksi belum? hari ini gimana? gimana rasanya? hehe one of the things not to do is not to ask frequently that kind of questions to expectant parents, karena mereka juga inginnya segera ketemu dengan buah hati. Toh nanti saat memang betul-betul waktunya, they’ll be the first one to know. 

To be honest, aku sangat menikmati kehamilanku, tapi memang di week 40 ke atas, badanku sudah mulai terasa lebih berat dan nggak bisa gerak sefleksibel biasanya. Tapi aku sadar bahwa ini hanya sementara dan akan segera berakhir. Setiap hari aku berusaha untuk mencari hal-hal yang bisa aku syukuri, agar fokus hanya ke hal-hal baik saja. Yang bikin tidak sabar, hanya perasaan ingin ketemu dan penasaran seperti apa bayi buah hatiku dan Damar ini.

At the end of the day, Damar dan aku dipercaya Allah untuk mengandung bayi ini.. Semoga ia selalu sehat, lahir normal dan tidak kurang suatu apapun. Hanya itu pintaku.

Kata Bapak “Kalau menurut Rumi dia membandingkan keindahan dunia dengan keindahan akhirat itu spt membandingkan dunia janin di perut di dan di luar”. Kalau memang seperti itu adanya, bayi ini belum tahu indahnya dunia luar. Jadi setiap hari aku ajak bicara tentang bagaimana dia ditunggu, indahnya dunia luar, tapi juga bicara bahwa kita percaya bayi ini akan keluar saat ia siap.

Aku sering berbincang dengan saudara yang berprofesi sebagai Doula, salah satu hal yang aku ingat adalah perkataannya..

Percaya pada tubuhmu, percaya pada bayimu. Berikan afirmasi positif setiap hari.

Dan itu juga hal yang aku bilang ke bayiku setiap hari.. “Dek, Ibu percaya adek akan keluar saat adek sudah siap. Tapi jangan lama-lama ya nak, supaya bisa dengan cara alami nggak perlu induksi. Dunia di luar indah lho dek”

Anyhoo, mamaku dan mama Damar datang saat kehamilanku sudah di minggu ke-40. Perasaan yang campur aduk, senang karena banyak yang support, plus nggak perlu mikirin masak-masak hehe karena ada 2 orang jago masak di rumah yang take over. Seneng mereka bisa sempet temani aku kontrol ke dokter, aku percaya bahwa ini nggak hanya momen aku, Damar dan bayi di perut, tapi juga momen nenek-kakeknya. Minus-nya ya gitu deh, akan selalu ada perbedaan pendapat antara mama, anak, dan juga mama mertua pastinya.

Awalnya, mamaku datang dengan Bapak.. tapi Bapak keburu pulang dan bayinya belum lahir. Mama mertua pun begitu, nggak lama dia datang, Papa menyusul, tapi Papa harus keburu pulang dan bayinya belum lahir hhaha. Minta ditunggu bareng-bareng kayanya yaa.. Banyak cerita kocak sih salah satunya saat mereka denger dari dokter bahwa Damar dan aku harus intercourse, karena di dalam sperma mengandung prostaglandin yang bisa melunakkan mulut rahim. Jadi heboh lah itu mamaku dan mama Damar, apalagi saat itu aku tidur dengan mamaku dan Damar tidur dengan mamanya hahah. Bagaimana kami mensiasatinya? Rahasia yahhh hihi

Di minggu ke 41 (kontrol sudah harus 3 hari sekali di atas 40 minggu), dokter nanya apakah sudah sempet minum air daun kembang sepatu. Dan belum.. bener-bener lupa bahwa itu adalah salah satu cara untuk melunakkan mulut rahim, dulu pernah dikasih tahu bidan. Tapi tidak pernah diingatkan lagi sama sekali. Akhirnya pencarian daun kembang sepatu pun dimulai, kocak sih ini, karena ternyata diluar sana yang banyak dilihat di pinggir jalan adalah kembang sepatu hias yang warna warni. Sedangkan yang bisa dikonsumsi adalah kembang sepatu yang asli, yang merah. Setiap kami pergi naik mobil, mata kami setajam mata elang untuk mencari dimana ada kembang sepatu ini. Akhirnya ketemu nggak jauh dari rumah, mama pun turun dari mobil dengan membawa gunting hahaaha. Aku bersyukur sekali, penantian kemarin banyak yang support, walaupun dengan pros consnya having moms around, but there are always bright sides. Now that I look back.. I can’t say thank you enough untuk Damar, untuk mamaku yang sebulan lebih stay sama aku, untuk mama Damar yang selalu masak sedekah tiap jumat untuk doakan kami, Bapak Papa, dan semua orang yang mengirimkan doa dan perhatiannya ke kami.

Nonton tari kecak di Beachwalk

Jalan pagi, bangun tidur dengan muka rembes

Di Pantai Melasti (Damar, Mama Damar, Mamaku, Aku)

Di Pantai Melasti

di Pantai Melasti

di Kuta Beach

di Kuta Beach

di Kuta Beach

di Kuta Beach

To be continued..

Ps. Foto-foto ini adalah salah satu momen killing times and enjoy the moment dengan kehamilan yang sudah sangat besar. You can see how round and big my belly is. 

Baby and motherhood

Hospital Bag Minimalis

4th October 2019 - 1 min read

Hospital bag – ku ini dibuat setelah konsultasi dengan rencana tempat lahir bayi. Jangan dijadikan acuan tetap yaa.. karena kebutuhan juga tergantung provider yang kamu pilih. Setiap rumah sakit, klinik bersalin, bidan dll punya standar masing-masing..

Namun, aku membuatnya dengan secukupnya dan tidak berlebih. Semoga bermanfaat!

 

Dreams

Mid-Year Review 2019

19th September 2019 - 2 min read

Nggak kerasa udah bulan September aja.. Kalau liat ke belakang rasanya cepet aja tiba-tiba udah mau akhir tahun. Walaupun yang namanya mid year review seharusnya dilakukan di pertengahan tahun, tapi it’s better late than never kan.

Masih ada beberapa bulan untuk merealisasikan yang belum terwujud dan untuk kembali ke track yang kita inginkan di awal tahun. Itu sih sebetulnya kekurangan dari resolusi, goal or whatsoever. It’s all good, tapi nggak jadi bagus kalau kita nggak cek sesekali dan berefleksi.

Ohya, do take note bahwa, nggak ada masalah jika ada beberapa hal yang berubah seiring perjalanannya, kita boleh ambisius tapi tidak seambisius itu untuk menutup mata bahwa sesuatu tidak realistis terjadi dalam rentang waktu 3 bulan (Oktober, November, Desember). Yuk kita lihat kembali sejauh apa kita dengan goal dan resolusi kita dengan 3 pertanyaan ini

  1. Apakah tahun ini sudah sejalan dengan tema yang kita pilih di awal tahun? 
  2. Apa yang sudah aku capai yang paling aku banggakan?
  3. Yuk cek lagi goal yang kita tulis dan hapus goal-goal yang sudah nggak realistis untuk dicapai?
  4. Apa 3 prioritas yang ingin dicapai dalam waktu 3 bulan ke depan?

Sekarang rasanya jadi back on track lagi and that’s the whole point. It’s okay to go out of track as we are all human being, but make sure we are conscious what we are doing and go back on track.

Family Indonesia Travel

Lebaran 2019 – Danau Toba Pulau Samosir itinerary

27th August 2019 - 10 min read

Momen lebaran kemarin adalah momen pertama lebaran semenjak kita kembali ke Indonesia. Dari awal kami sudah alokasi budget untuk ke tempat orang tua ku juga Damar. Namun seperti pasangan pada umumnya, kami harus bisa membagi waktu, harus memutuskan akan merayakan lebaran di mana, apakah di keluarga Damar di Medan atau kah di keluarga-ku di Surabaya.

Mungkin setiap pasangan memiliki ‘metode pembagian’ masing-masing,  kami sepakat untuk ke keluarga Damar dulu karena dia yang lebih jarang berkumpul dengan keluarga-nya secara lengkap saat kami masih di Belanda. Plus, Surabaya lebih dekat dengan Bali, tempat tinggal kita sekarang, jadi umumnya aku akan lebih sering ketemu dengan keluarga-ku. Sebetulnya mau dibagi, lebaran hari pertama dengan keluarga Damar, lebaran hari kedua dengan keluarga-ku. Tapi sepertinya itu hanya angan-angan belaka yang tidak masuk akal apalagi Medan Surabaya bukan kota yang bisa dengan mudah ditempuh dengan jalur darat, pastinya tiket pesawat mahal-mahalnya di tanggal segitu.

Tahun ini adalah tahun ke 3 lebaran bersama Damar sebagai suami istri.. dan setiap tahunnya kami punya cerita sendiri-sendiri. Tahun 2016, kami ber-lebaran di Amsterdam untuk pertama kalinya pisah dengan kakakku yang merayakan di kota Delft, tapi besokannya kami berkumpul di rumah salah seorang teman untuk pesta opor. Tahun 2017, Bapak Mama memutuskan untuk berlebaran di Eropa dengan kami, kami membawa mereka ke KOLN, Germany karena disana sedang ada masjid yang baru dibangun sangat indah dan sedang mendapatkan spotlight. Kami ingin memiliki pengalaman itu bersama. Tahun 2018 sedikit berbeda karena  Damar sedang di Indonesia, dan aku di Belanda. Jadi kita tidak merayakan bersama-sama. Tapi yang membuat spesial adalah kakak saya dari Glasgow datang ke Belanda dan kami berkumpul disana bersama.

Lebaran dan ceritanyaa… Kali ini tahun 2019 berbeda lagi, tapi bisa jadi ini akan menjadi awal dari ritual ke depannya.

Kota Medan

Kami berangkat tanggal 31 May (H-5 Lebaran) dengan pesawat Lion Air. Pembelajaran banget nih, karena cari yang murah, ternyata jatuhnya sama dengan Garuda karena kami beli ekstra bagasi. Ekstra bagasi adalah sesuatu yang wajib karena pasti kedua orang tua kami membawakan berbagai macam makanan/masakan rumah yang pastinya tidak ada di Bali. Perjalanan lancar dan kami sampai sana malam hari, istirahat untuk memulai kegiatan esok paginya.

Foto di pesawat dengan perbekalan makanan 😀

Disana langsung disambut masakan-masakan mertua (lontong sayur, sambel goreng telor, dan teman-temannya). Setiap pagi pun selalu dimulai dengan nasi dan makanan berat lainnya haha dinikmati sajaaaa.. karena tidak merasakan itu setiap hari. Saat kami berdua berkunjung ke keluarga, mindset kami berdua pun sudah pasti fokus ke kegiatan kumpul keluarga. Di hari ke-2 kami di Medan ada acara bersama keluarga yang woahhh makanannyaaa mantap-mantap. Nah tapi ternyata di hari ke-3, kami bisa meluangkan waktu untuk berkunjung ke Danau Toba dan Pulau Samosir (pulau di tengan Danau Toba). Untuk aku yang super turis banget karena belum pernah muter-muter Medan, rasanya seneng kalau bisa sekalian jalan-jalan dan dapat pengalaman baru.

On the way ke unjung-unjung keluarga buka bersama bersama di rumah mbah Ti (nenek Damar)

 

Danau Toba

Perjalanan dari Medan ke Danau Toba ditempuh kurang lebih 3-4 jam. Kami melewati kota Pematang Siantar dan mampir ke Vihara Avalokitsvara – Statue of Dewi Kwan Im.

Disitu kami membunuh waktu karena kami ingin mampir untuk makan pagi (untuk saya yang sedang tidak puasa saat itu) di Roti Ganda yang baru buka jam 10 pagi. Yang khas disitu adalah krim isi meses dan srikaya. Kami pesan 2-2nya.. Tips dari adek Ipar: Beli yang mini saja karena lebih empuk rotinya dan emang betul saat roti ini dimakan di waktu maghrib, tetap empuk dan enak. Saat disana, saya beli oleh-oleh selai srikaya untuk mama mertua di rumah.

Source foto: Trip advisor

Source foto: Tokopedia

Selesai dari Roti Ganda, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Toba. Kami tidak berhenti-berhenti lagi setelah dari Roti Ganda, perjalanan sekitar 2.5 jam dari Pematang Siantar. Begitu sampai di gunung daerah Danau Toba, kita semua disambut oleh monyet-monyet yang tersebar di seluruh penjuru. Mereka di pinggir jalan hidup biasa tanpa takut dengan mobil-mobil yang lewat. Sesaat agak sedih sih karena sebetulnya itu habitatnya mereka. Anyway, kita berhenti sebentar di salah satu entrance Danau Toba.

Setelah itu kami melanjutkan ke pelabuhan Ajibata untuk nyeberang ke Pulau Samosir. Kami membayar sebesar sekitar 15rb per orang dan sudah dapat life safe jacket. Lucunya saat kita sedang menunggu penumpang yang lain, banyak anak-anak kecil di air yang meminta-minta untuk dilemparin uang, ada yang lempar koin, ada yang lempar uang kertas. Mereka semangat banget untuk nyelem dan menjemput rejeki mereka yang dilempar orang itu. Perjalanan dari pelabuhan ke Pulau Samosir sekitar 30 menit, iyaa Danau Toba itu sebesar itu.

Pulau Samosir

Di dalam Samosir kita berjalan kaki ke tempat wisata yang paling dekat dengan pelabuhan, kami jalan melewati pasar sambil melihat-lihat kekhas-an produk-produk sekitar seperti ulos dan lain-lain.

Kemudian kami mampir ke Batak Museum yang di dalamnya ada banyak benda peninggalan jaman dulu yang digunakan oleh masyarakat batak. Agak ngeri-ngeri gimana gitu di dalem.

Bukit Simarjarunjung

Tempat ini termasuk wisata kekinian untuk selfie yang menyedot perhatian para turis-turis, yasud kita coba lha yaaaa.. yang menarik karena panorama danau toba-nya indah di situ. Masuknya gratis hanya parkir saja, tapiiiiii setiap pojokan tempat selfie-nya harus membayar sekitar 5 ribu per orang. Lokasinya asik dan asriiii bangett.. bisa menikmati keindahan alam. Bukit Simarjarunjung ini berlokasi di Jl. Simarjarunjung, Desa Parik Sabungan, Kecamatan Dolok Perdamean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Ini contoh beberapa spot yang kami pilih untuk untuk berfoto..

 

Selesai dari tempat ini kita langsung menuju ke penginapan Sibayak di Brastagi, tempatnya murah dan cukup nyaman. Untuk kita yang hanya semalam saja, sangat cukup sekali.. Dan aku baru tahu bahwa Berastagi itu dingin! Tapi disana sedia air hangat, jadi nggak masyalah. Paling kalau berbanyak orang, bawa ekstra selimut akan sangat membantu.

Brastagi

Di Brastagi kita buka dan sahur. Makanan cukup beragam, tempatnya ngingetin aku dengan Batu atau Puncak. Adem, tipikal kawasan pegunungan, dan orang-orangnya juga santai gitu. Sebetulnya banyak sekali yang bisa dilihat dan didatangi diBrastagi, tapi karena waktu kita limited, bener-bener cuma sepagian aja (kita harus pulang tengah hari kalau mau ngikutin takbiran hari itu). Tapi for info, bisa lihat-lihat disini apa yang bisa didatangi dan dilihat di Brastagi.

 

Pasar Buah Berastagi. Harus banget banget banget kesana! Untuk pecinta buah, kalian bisa kalap.

 

Taman Alam Lumbini Brastagi

Terakhir setelah kita main-main ke pasar, kita ke Taman Alam Lumbini Brastagi. Taman Alam Lumbini adalah candi Budha yang lokasinya di Desa Dolat Rayat, Berastagi di Sumatera Utara. Katanya, saat upacara pembukaan, dihadiri oleh lebih dari 1.300 biksu dan lebih dari 200 umat awam dari seluruh dunia. Tempatnya gedeeee banget.. dan modelnya memang taman gitu, banyak space di bagian depan jadi bisa untuk berfoto-foto.  Disana ada pilihan untuk foto dengan baju adat, yang mirip dengan baju adat hanbok korea. Aku kurang paham itu baju adat mana dan apa sejarahnya. Kita sih foto-foto tanpa modal aja.. Ohya terus kalau ke bagian bawah bisa ke arah hutan kecil dan air terjun kecil. Semuanya hijau dan alam banget.. small treasure yang nggak kelihatan kalau kalian nggak eksplor. Jadi memang ini bukan hanya candi Budha aja…

 

Nah setelah dari situ kita kembali ke kota Medan. Nginap di Medan 5 hari ekstra, selebrasi Idul Fitri di sana dengan keluarga suami. Kemudian lanjut deh ke Surabaya, kota kelahiran dan kota tercinta. Aku jadi punya perspektif berbeda setelah melihat beberapa kota di Indonesia. Keragaman budaya, kuliner dan alam Indonesia itu wow sekaliii!!!

Okelah, kira-kira seperti ini kemarin dengan waktu yang sempit di Medan. Kalau mau memanfaatkan 2 hari di Medan, semoga itinerary ini berguna yaaa…

 

Finance Hidup Minimalis

Pengalaman Investasi

22nd August 2019 - 6 min read

Setelah kemarin sempat membahas mengenai relevansi antara finansial dan hidup minimalis, next thing is what to do with the extra money saved. Untuk saya intinya adalah dialokasikan ke hal yang lebih prioritas. Prioritas bisa sangat berbeda-beda tiap orang, untuk aku sendiri bisa ke hal-hal seperti travel, sedekah, juga investasi.

Ini adalah salah satu pertanyaan yang sering aku terima begitu membahas mengenai finansial. Investasi kah? Kalau iya, investasi kemana?

Tabungan itu adalah suatu hal yang tidak dapat diganggu gugat setiap bulannya. Kami menargetkan sekitar 10-30% tergantung kewajiban yang harus dijalani di bulan tersebut. Tapi kadang sisa dari pengeluaran di bulan itu, juga menjadi sumber dari uang yang kami masukan ke pos investasi.

Aku akan sharing berdasarkan pengalaman aku dan Damar, kemana-mana saja mengalokasikan tabungan kami untuk berinvestasi. Sebagai milenial di jaman sekarang dimana lifestlye bisa disalah artikan dan jadi prioritas utama, kita harus banget membuat target finansial dan rencana dimana kita akan berinvestasi, karena membiarkan di bank saja tidak cukup. By the way, berdagang juga bisa jadi moda investasi lho, dan disini saya pun melakukannya.

Sebelum mulai, ada 2 macam investasi, yaitu Physical Investment dan Financial Investment.

Physical Investment – Berwujud, contohnya rumah, emas batangan, lukisan, tanah, dan lain-lain
Financial Investment – Tidak berwujud, atau terkadang berbentuk surat atau kertas, contohnya Saham, Reksadana, Forex, peer to peer landing, Surat hutang dan lain-lain

Kebetulan keduanya kami lakukan. Untuk physical investment kami alhamdulillah ada rumah dan untuk financial investment kami mencoba beberapa hal berikut

  1. Deposito
  2. Surat hutang negara
  3. Reksadana
  4. Saham.

Kenapa kami nyoba beberapa hal? karena kami ingin mencoba-coba mana yang paling cocok dengan kebutuhan kami. Dan ke-4-nya memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Kira-kira pros dan cons-nya seperti ini.

PROS CONS
Deposito Pasti, Bisa dilakukan kapan aja, Dijamin oleh bank yang kemudian
ditanggung pemerintah, , Mudah, Bisa di roll over
Bisa diambil saat jatuh tempo (bisa milih kapan harus diambil, semakin lama,
semakin banyak return-nya),
Riba masih tidak jelas statusnya
Surat Utang Negara Pasti, Hanya bisa dilakukan di waktu tertentu, Dijamin oleh negara,
Bunga lebih tinggi dari deposito – bisa memilih pilihan syariah (SUKUK)
Uang di keep 2 tahun
Reksadana Diversifikasi risk lebih mudah, bisa dicairkan kapan saja,
return untuk jangka panjang
Harus memilih produk yang sesuai
Saham High risk – High Return Agak ribet untuk set up account
Rumah Property value cenderung akan selalu naik, bisa disewakan High investment, tidak dapat diprediksi, perlu cost untuk maintain,
absen-nya penyewa

Beberapa hal untuk dijadikan pertimbangan adalah latar belakang dari dimana kita menginvestasikan (perusahannya, banknya dll) apakah memiliki rating dan sejarah yang baik atau tidak. Disini aku tidak akan membahas mengenai perdebatan riba dan kaitan perusahaan-perusahaan yang kami pinjami uang dengan apakah mereka korupsi, apakah mereka do something good for the society yang berhubungan dengan gaya hidup yang aku anut, karena ini riset pribadi dan juga menggunakan feeling/instinct. Saat kalian tidak merasa benar atau tidak tenang, jangan dilakukan!

Di post kali ini aku ingin cerita salah satu instrumen yang relatif ramah, yaitu Reksadana. Uang bisa dicairkan kapan saja, return cukup okay dibanding deposito plus kamu juga tidak perlu untuk terus monitor.

Tapi pertama-tama, tujuan berinvestasi itu penting. Buat apa dan untuk jangka waktu berapa lama kita harus tahu. Kita harus bisa bedakan yang namanya main dan nabung saham. Reksadana itu lebih tepat disebut dengan menabung, tapi memang keuntungannya per bulan tidak seberapa. Kalau untuk short term dan high investment, main saham saja, tapi harus ada deep knowledge mengenai ini, harus ngerti banget dan banyak waktu untuk mantau juga banyak uang di awal. Kalau Reksadana, dipercayakan ke asset manager (manajer investasi) yang punya waktu dan pengetahuan.

Reksadana is not for everyone. Karena ini untuk orang-orang yang punya tujuan investasi memang untuk di masa depan. Harus sabar dan jangan gatel untuk dicairin. Uangnya memang bukan untuk sekarang, tapi untuk 5 tahun bahkan 10 tahun kedepan.

Dimana belinya Reksadana?

Bisa ke kantor manajer investasi (tapi cabangnya tidak banyak), ke bank atau online. Enaknya kalau online itu bisa diakses kapan aja dan mudah. Sekarang ada banyak banget platform diluaran sana yang menawarkan jasa penjualan reksadana, tapi saat dilihat-lihat banyak banget pilihan produknya jadi bingung sendiri. Terus kebanyakan perlu modal paling nggak 100rb, sampai akhirnya menemukan si Ajaib. Dia bentukannya aplikasi, sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK & Kemkominfo, bisa mulai investasi dengan minimum modal awal sebesar Rp 10.000 lewat proses pembukaan akun online hanya dalam 1 menit!

Bekerjasama dengan manajer investasi terbaik yang berpengalaman lebih dari 20 tahun, tanpa biaya pembukaan akun, tanpa biaya proses pembelian, penjualan dan pengalihan dan yang paling enak itu ada fitur live chat dengan ahli keuangan Ajaib.

Kalian bisa pakai referral code ku – muri912

Dengan kode referral ku kalian bisa mendapat 10rb ekstra, dan aku bisa main di ‘magic carpet’ dengan kemungkinan mendapatkan 10rb-1juta reksadana gratis.

Apa yang masih aku gunakan sekarang setelah mencoba?

Surat Utang Negara, Reksadana dan Rumah.