All Posts By

Maurilla Imron

Baby and motherhood

Cerita Kelahiran Alana – Mencari Provider di Bali

15th November 2019 - 7 min read

Ngelanjutin cerita ‘Menunggu’ kemarin, aku pengen cerita sekaligus freeze the moment kelahiran Alana kemarin. Supaya bisa dibaca lagi dan bisa jadi bacaan untuk Alana kelak. Yang jelas sekarang aku tahu apa yang dilewati oleh semua perempuan yang memiliki anak, walaupun dengan cara yang berbeda-beda, tapi kurasa sensasinya dan perasaan magis-nya sama. Bersyukur sekali diberi kesempatan itu.

Hari itu, 17 Oktober 2019, waktunya kami check up ke dokter. Ohya, Dokter pilihan kami di Bali adalah dr Hariyasa.. Seorang dokter yang juga sangat spiritual dan percaya pada semua proses hamil juga persalinan yang sifatnya natural dan gentle. Hanya di dokter inilah waterbirth dibolehkan di Bali, karena dia adalah Ketua Asosiasi Waterbirth Indonesia dan merupakan seorang SPOG. Awalnya ingin sekali melahirkan di Bumi Sehat, Klinik Ibu Bidan Robin yang sudah terkenal di dunia. Bumi Sehat adalah sebuah tempat bersalin yang tidak berbayar, semuanya donasi-based. Lokasinya di Ubud, cukup jauh dari Nusa Dua. Sayangnya Ibu Robin tidak memiliki lisensi untuk melahirkan di air. Namun begitu, seluruh filosofi, pembelajaran, pembekalan dan kepercayaan-nya adalah sesuatu yang berbanding lurung dengan yang aku mau dalam kehamilan dan persalinan nanti.

Flashback sedikit ke belakang saat proses pencarian provider persalinan yang cocok di Bali.. 

Sehari sebelum kami terbang ke Indonesia, kami cek up terakhir di Belanda dengan midwife Marianne. Salah satu hal yang membedakan Belanda adalah proses kehamilan dan persalinan ditangani oleh midwife kecuali ada kondisi tertentu. Midwife berarti bahasa indonesia-nya bidan yahh.. si bidan ini menyenangkan sekali, entah karena midwife in general, atau aku beruntung mendapatkan Marianne. They do love their job and do it happily. Setiap kita kesana, kita merasa dirangkul apalagi sebagai orang tua yang belum tahu apa-apa. Vibe-nya enak, positif, happy.. Dan serasa ada personal engagement antara kita dan dia. Intinya, kami punya pengalaman baik yang secara otomatis kami jadikan standar sebagai thick list untuk dokter/bidan kami ke depannya di Indonesia.

Nah sebelum sampai ke Indonesia, aku tanya ke temen yang juga sedang hamil dan tinggal di Bali mengenai SPOG yang bagus. Akhirnya direkomendasikan ke dokter yang menangani dia.. dengan sudah dibekali lebih dulu sebelumnya, bahwa dokter ini agak kaku orangnya. Baiklahhh… Sampai di Indonesia kami pun langsung kontrol ke beliau.. Dan memang betul, kami sama sekali nggak merasakan kehangatannya huhu dan orangnya memang kaku, nggak gemar basa basi. Damar disemprot gara-gara ngeluarin HP untuk ngerekam saat USG sedang diambil 🙁 Di pertemuan pertama itu, semua langsung dicek dengan 3D dll tapi sayangnya tanpa persetujuan atau penjelasan detail. Pun saat mengambil USG, tidak ada penjelasan detil. It’s like he only does his job and get it done gitu rasanya.. He’s also expensive and far from where we live, walaupun itu bukan segalanya, tapi itu menambah pertimbangan bahwa it’s not really worth it to go to him. Dan dari birth plan yang aku ingin jalankan, he’s far from it. Menurut aku penting banget sih untuk cari provider yang tepat, kaya cari jodoh deh, harus memenuhi paling nggak kebanyakan kriteria yang kita inginkan. Let’s say it’s part of the process and we learnt something from it.

So, one day.. Kita mutusin untuk nyetir ke Ubud, selain karena ada janji tapi juga ingin bertandang ke Bumi Sehat.. Tempat Bidan Robin. It’s been my dream to have my labor there.. dan aku selalu membayangkan water birth in nature hehe that’s my wild dream about this pregnancy. Dan pindah ke Bali mendekatkan aku pada mimpi tersebut.

Kami datang ke sana dannn…. Allah pertemukan aku dengan Ibu Robin alhamdulillah sekali.. Orangnya sangat ramah dan dia mendengarkan keluh kesahku mengenai pencarian dokter, dan dia pun langsung menawarkan untuk hari itu daftar, survey tempat dan cek disana. It just worked magically.. Kurasa itu campur tangan Allah yang sangat mengerti harapan dan impianku untuk memberi yang terbaik untuk bayiku. Proses ini sekali lagi mengingatkan aku untuk bersyukur dan percaya akan kebesaranNya. Saat sedang bicara, aku baru tahu bahwa ternyata Bidan Robin sudah tidak diperbolehkan untuk menjalankan waterbirth oleh pemerintah. Dia literally bilang, dia bisa dideportasi kalau ketahuan melakukan praktek itu. Aku cukup sedih dan kecewa, tapi tetap ingin periksa disana dan membuka kesempatan untuk melahirkan disana. Dipikir-pikir, untuk selalu ke Ubud yang jaraknya hampir 1.5 jam dari Nusa Dua tiap bulan mungkin akan menjadi pe er untuk kita. Jadi aku tanya, apakah ada dokter atau bidan di dekat Nusa Dua yang sejalan dengan prinsip Gentle birth, lotus birth dll.. Dan Ibu Robin memberi kartu nama Dr Hariyasa Sanjaya di Renon.

Long story short, kami pun datang ke klinik sederhana beliau di Renon, beliau juga seorang SPOG di Bali Royal Hospital (BROS). Pertama kali bertemu, langsung jatuh hati dengan kehangatan dan penjelasannya. Walau juga tidak banyak bicara, tapi sangat merangkul.. dan menjawab pertanyaan dengan sabar. Terlihat kemurnian hatinyaa.. Kami juga cerita dengan keinginan kami untuk menjalankan waterbirth, dan dia menyambut dengan baik keinginan kami itu. Jadi saat itu juga, aku memutuskan untuk melanjutkan dengan dr Hariyasa. He’s the one.. 


Kembali ke cerita melahirkan, di hari itu, dokter memeriksa lewat USG dan dia cukup kaget karena Lana yang 2 hari sebelumnya dan beberapa minggu sebelumnya stay di 3.6 kg tiba-tiba melonjak jadi 4.1 kg. Kemudian dia menjalankan apa yang namanya Bishop test untuk melihat ketebalan mulut rahimku (harusnya sudah menipis dan mendekati skor tertentu karena aku sudah hamil tua). Tapi ternyata hasilnya tidak memuaskan, dengan kekakuan dan tebal mulut rahimku di hari itu, dokter kuatir berat badan bayi akan bertambah lebih banyak lagi dan menyulitkan untukku yang sangat ingin melalui natural birth. Dokter pun memberi suggestion untuk room in keesokan hari dan dilakukan induksi. Disitu pupuslah harapan untuk melakukan waterbirth.. Melangkah gontai pulang dan berusaha untuk menyerap berita yang baru didengar…..

To be continued.. 

Baby and motherhood

Cerita Kelahiran Alana – Menunggu dan Tips induksi alami

15th October 2019 - 9 min read

Apa saja yang namanya menunggu pastilah bukan jadi hal yang favorit. Mau menunggu apapun itu.. Menunggu kali ini adalah menunggu sesuatu yang baik dan patut untuk disyukuri, yaitu menunggu buah hati yang sudah dipercayakan Tuhan di perutku untuk lahir. Hari ini 40+ weeks, hampir 41 weeks. Antara penuh harap cemas, pasrah, kadang sedih juga merasa dan bertanya apakah usahaku selama ini belum cukup. Yang kurasa adalah segala tips induksi alami yang kami pernah dengar sudah aku dan Damar lakukan, diantaranya adalah sebagai berikut..

  1. Makan nanas
  2. Makan kurma setiap hari
  3. Minum air daun kembang sepatu
  4. Intercourse
  5. Morning speed walking
  6. Banyak jalan
  7. Squat
  8. Yoga
  9. Naik turun tangga
  10. Gym Ball
  11. Komunikasi
  12. Pijat induksi
  13. Hypno therapy

Tapi masih belum ada tanda-tanda yang berarti.. Sebetulnya dari minggu ke 38 sudah mulai sering kerasa kontraksi-kontraksi kecil, kontraksi palsu, kenceng banget rasa perutnya.. tapi begitu saja, nggak rutin dan selalu berhenti. Kontraksi palsu atau braxton hicks ini adalah cara tubuh untuk mempersiapkan otot-otot dan organ-organ untuk proses lahiran nanti. Kalau menurut aku, kontraksi palsu itu adalah caranya bayi di dalem perut untuk memberi tahu bahwa dia sudah hampir siap lahir dan dia akan berusaha bersama denganku untuk keluar.

Dalam penantian ini, Damar dan aku berusaha kalem dan bersabar. Iya itu kuncinya: Sabar! Alhamdulillah aku sangat bersyukur, Damar bisa cukup fleksibel untuk bekerja dari rumah (walau aku juga sadar itu privilege yang nggak bisa di take for granted, so cheers for all of his subordinates and colleagues di kantor yang sudah sangat mengerti dengan kondisi ini). Di usia kehamilan 38 minggu, Damar mulai siaga  di rumah. Dia kerja dari rumah untuk nemenin aku and to keep me calm and peaceful. Karena katanya, salah satu hal yang memacu kontraksi adalah hormon oxytocin, sebuah hormon cinta dan hormon bahagia. Dimana ibu nggak boleh sedikitpun stress, karena bisa membuat persalinan macet. Jadi disitu, aku berusaha nggak mikirin kapan dia akan keluar, hanya fokus ke hal-hal yang positif dan happy-happy aja. And Damar’s present also succesfully keeps me happy. Damar tahu banget bahwa kami hamil bertiga dan dia memiliki pengaruh luar biasa terhadap kesehatan fisik dan juga mentalku. And I am super grateful for that! I love him so much. Buat bapak-bapak diluar sana, jangan berpikir bahwa kalian helpless atau useless, karena sebetulnya yang diminta istri itu nggak banyak. Dan kalian bisa effort sedikit lebih untuk memberi tahu istri kalian bahwa hamil itu bertiga.. dan kalian siap sedia selalu kapanpun dibutuhkan. Hal-hal kecil seperti kata-kata ‘kamu cantik’, ‘i love you’, ‘thank you for carrying our child’, etc is a small thing that matters a lot. A LOT!

Kadang ada perasaan kesal dan jengkel karena banyak ditanya oleh saudara terutama orang tua kami sendiri, sudah kontraksi belum? hari ini gimana? gimana rasanya? hehe one of the things not to do is not to ask frequently that kind of questions to expectant parents, karena mereka juga inginnya segera ketemu dengan buah hati. Toh nanti saat memang betul-betul waktunya, they’ll be the first one to know. 

To be honest, aku sangat menikmati kehamilanku, tapi memang di week 40 ke atas, badanku sudah mulai terasa lebih berat dan nggak bisa gerak sefleksibel biasanya. Tapi aku sadar bahwa ini hanya sementara dan akan segera berakhir. Setiap hari aku berusaha untuk mencari hal-hal yang bisa aku syukuri, agar fokus hanya ke hal-hal baik saja. Yang bikin tidak sabar, hanya perasaan ingin ketemu dan penasaran seperti apa bayi buah hatiku dan Damar ini.

At the end of the day, Damar dan aku dipercaya Allah untuk mengandung bayi ini.. Semoga ia selalu sehat, lahir normal dan tidak kurang suatu apapun. Hanya itu pintaku.

Kata Bapak “Kalau menurut Rumi dia membandingkan keindahan dunia dengan keindahan akhirat itu spt membandingkan dunia janin di perut di dan di luar”. Kalau memang seperti itu adanya, bayi ini belum tahu indahnya dunia luar. Jadi setiap hari aku ajak bicara tentang bagaimana dia ditunggu, indahnya dunia luar, tapi juga bicara bahwa kita percaya bayi ini akan keluar saat ia siap.

Aku sering berbincang dengan saudara yang berprofesi sebagai Doula, salah satu hal yang aku ingat adalah perkataannya..

Percaya pada tubuhmu, percaya pada bayimu. Berikan afirmasi positif setiap hari.

Dan itu juga hal yang aku bilang ke bayiku setiap hari.. “Dek, Ibu percaya adek akan keluar saat adek sudah siap. Tapi jangan lama-lama ya nak, supaya bisa dengan cara alami nggak perlu induksi. Dunia di luar indah lho dek”

Anyhoo, mamaku dan mama Damar datang saat kehamilanku sudah di minggu ke-40. Perasaan yang campur aduk, senang karena banyak yang support, plus nggak perlu mikirin masak-masak hehe karena ada 2 orang jago masak di rumah yang take over. Seneng mereka bisa sempet temani aku kontrol ke dokter, aku percaya bahwa ini nggak hanya momen aku, Damar dan bayi di perut, tapi juga momen nenek-kakeknya. Minus-nya ya gitu deh, akan selalu ada perbedaan pendapat antara mama, anak, dan juga mama mertua pastinya.

Awalnya, mamaku datang dengan Bapak.. tapi Bapak keburu pulang dan bayinya belum lahir. Mama mertua pun begitu, nggak lama dia datang, Papa menyusul, tapi Papa harus keburu pulang dan bayinya belum lahir hhaha. Minta ditunggu bareng-bareng kayanya yaa.. Banyak cerita kocak sih salah satunya saat mereka denger dari dokter bahwa Damar dan aku harus intercourse, karena di dalam sperma mengandung prostaglandin yang bisa melunakkan mulut rahim. Jadi heboh lah itu mamaku dan mama Damar, apalagi saat itu aku tidur dengan mamaku dan Damar tidur dengan mamanya hahah. Bagaimana kami mensiasatinya? Rahasia yahhh hihi

Di minggu ke 41 (kontrol sudah harus 3 hari sekali di atas 40 minggu), dokter nanya apakah sudah sempet minum air daun kembang sepatu. Dan belum.. bener-bener lupa bahwa itu adalah salah satu cara untuk melunakkan mulut rahim, dulu pernah dikasih tahu bidan. Tapi tidak pernah diingatkan lagi sama sekali. Akhirnya pencarian daun kembang sepatu pun dimulai, kocak sih ini, karena ternyata diluar sana yang banyak dilihat di pinggir jalan adalah kembang sepatu hias yang warna warni. Sedangkan yang bisa dikonsumsi adalah kembang sepatu yang asli, yang merah. Setiap kami pergi naik mobil, mata kami setajam mata elang untuk mencari dimana ada kembang sepatu ini. Akhirnya ketemu nggak jauh dari rumah, mama pun turun dari mobil dengan membawa gunting hahaaha. Aku bersyukur sekali, penantian kemarin banyak yang support, walaupun dengan pros consnya having moms around, but there are always bright sides. Now that I look back.. I can’t say thank you enough untuk Damar, untuk mamaku yang sebulan lebih stay sama aku, untuk mama Damar yang selalu masak sedekah tiap jumat untuk doakan kami, Bapak Papa, dan semua orang yang mengirimkan doa dan perhatiannya ke kami.

Nonton tari kecak di Beachwalk

Jalan pagi, bangun tidur dengan muka rembes

Di Pantai Melasti (Damar, Mama Damar, Mamaku, Aku)

Di Pantai Melasti

di Pantai Melasti

di Kuta Beach

di Kuta Beach

di Kuta Beach

di Kuta Beach

To be continued..

Ps. Foto-foto ini adalah salah satu momen killing times and enjoy the moment dengan kehamilan yang sudah sangat besar. You can see how round and big my belly is. 

Baby and motherhood

Hospital Bag Minimalis

4th October 2019 - 1 min read

Hospital bag – ku ini dibuat setelah konsultasi dengan rencana tempat lahir bayi. Jangan dijadikan acuan tetap yaa.. karena kebutuhan juga tergantung provider yang kamu pilih. Setiap rumah sakit, klinik bersalin, bidan dll punya standar masing-masing..

Namun, aku membuatnya dengan secukupnya dan tidak berlebih. Semoga bermanfaat!

 

Dreams

Mid-Year Review 2019

19th September 2019 - 2 min read

Nggak kerasa udah bulan September aja.. Kalau liat ke belakang rasanya cepet aja tiba-tiba udah mau akhir tahun. Walaupun yang namanya mid year review seharusnya dilakukan di pertengahan tahun, tapi it’s better late than never kan.

Masih ada beberapa bulan untuk merealisasikan yang belum terwujud dan untuk kembali ke track yang kita inginkan di awal tahun. Itu sih sebetulnya kekurangan dari resolusi, goal or whatsoever. It’s all good, tapi nggak jadi bagus kalau kita nggak cek sesekali dan berefleksi.

Ohya, do take note bahwa, nggak ada masalah jika ada beberapa hal yang berubah seiring perjalanannya, kita boleh ambisius tapi tidak seambisius itu untuk menutup mata bahwa sesuatu tidak realistis terjadi dalam rentang waktu 3 bulan (Oktober, November, Desember). Yuk kita lihat kembali sejauh apa kita dengan goal dan resolusi kita dengan 3 pertanyaan ini

  1. Apakah tahun ini sudah sejalan dengan tema yang kita pilih di awal tahun? 
  2. Apa yang sudah aku capai yang paling aku banggakan?
  3. Yuk cek lagi goal yang kita tulis dan hapus goal-goal yang sudah nggak realistis untuk dicapai?
  4. Apa 3 prioritas yang ingin dicapai dalam waktu 3 bulan ke depan?

Sekarang rasanya jadi back on track lagi and that’s the whole point. It’s okay to go out of track as we are all human being, but make sure we are conscious what we are doing and go back on track.

Family Indonesia Travel

Lebaran 2019 – Danau Toba Pulau Samosir itinerary

27th August 2019 - 10 min read

Momen lebaran kemarin adalah momen pertama lebaran semenjak kita kembali ke Indonesia. Dari awal kami sudah alokasi budget untuk ke tempat orang tua ku juga Damar. Namun seperti pasangan pada umumnya, kami harus bisa membagi waktu, harus memutuskan akan merayakan lebaran di mana, apakah di keluarga Damar di Medan atau kah di keluarga-ku di Surabaya.

Mungkin setiap pasangan memiliki ‘metode pembagian’ masing-masing,  kami sepakat untuk ke keluarga Damar dulu karena dia yang lebih jarang berkumpul dengan keluarga-nya secara lengkap saat kami masih di Belanda. Plus, Surabaya lebih dekat dengan Bali, tempat tinggal kita sekarang, jadi umumnya aku akan lebih sering ketemu dengan keluarga-ku. Sebetulnya mau dibagi, lebaran hari pertama dengan keluarga Damar, lebaran hari kedua dengan keluarga-ku. Tapi sepertinya itu hanya angan-angan belaka yang tidak masuk akal apalagi Medan Surabaya bukan kota yang bisa dengan mudah ditempuh dengan jalur darat, pastinya tiket pesawat mahal-mahalnya di tanggal segitu.

Tahun ini adalah tahun ke 3 lebaran bersama Damar sebagai suami istri.. dan setiap tahunnya kami punya cerita sendiri-sendiri. Tahun 2016, kami ber-lebaran di Amsterdam untuk pertama kalinya pisah dengan kakakku yang merayakan di kota Delft, tapi besokannya kami berkumpul di rumah salah seorang teman untuk pesta opor. Tahun 2017, Bapak Mama memutuskan untuk berlebaran di Eropa dengan kami, kami membawa mereka ke KOLN, Germany karena disana sedang ada masjid yang baru dibangun sangat indah dan sedang mendapatkan spotlight. Kami ingin memiliki pengalaman itu bersama. Tahun 2018 sedikit berbeda karena  Damar sedang di Indonesia, dan aku di Belanda. Jadi kita tidak merayakan bersama-sama. Tapi yang membuat spesial adalah kakak saya dari Glasgow datang ke Belanda dan kami berkumpul disana bersama.

Lebaran dan ceritanyaa… Kali ini tahun 2019 berbeda lagi, tapi bisa jadi ini akan menjadi awal dari ritual ke depannya.

Kota Medan

Kami berangkat tanggal 31 May (H-5 Lebaran) dengan pesawat Lion Air. Pembelajaran banget nih, karena cari yang murah, ternyata jatuhnya sama dengan Garuda karena kami beli ekstra bagasi. Ekstra bagasi adalah sesuatu yang wajib karena pasti kedua orang tua kami membawakan berbagai macam makanan/masakan rumah yang pastinya tidak ada di Bali. Perjalanan lancar dan kami sampai sana malam hari, istirahat untuk memulai kegiatan esok paginya.

Foto di pesawat dengan perbekalan makanan 😀

Disana langsung disambut masakan-masakan mertua (lontong sayur, sambel goreng telor, dan teman-temannya). Setiap pagi pun selalu dimulai dengan nasi dan makanan berat lainnya haha dinikmati sajaaaa.. karena tidak merasakan itu setiap hari. Saat kami berdua berkunjung ke keluarga, mindset kami berdua pun sudah pasti fokus ke kegiatan kumpul keluarga. Di hari ke-2 kami di Medan ada acara bersama keluarga yang woahhh makanannyaaa mantap-mantap. Nah tapi ternyata di hari ke-3, kami bisa meluangkan waktu untuk berkunjung ke Danau Toba dan Pulau Samosir (pulau di tengan Danau Toba). Untuk aku yang super turis banget karena belum pernah muter-muter Medan, rasanya seneng kalau bisa sekalian jalan-jalan dan dapat pengalaman baru.

On the way ke unjung-unjung keluarga buka bersama bersama di rumah mbah Ti (nenek Damar)

 

Danau Toba

Perjalanan dari Medan ke Danau Toba ditempuh kurang lebih 3-4 jam. Kami melewati kota Pematang Siantar dan mampir ke Vihara Avalokitsvara – Statue of Dewi Kwan Im.

Disitu kami membunuh waktu karena kami ingin mampir untuk makan pagi (untuk saya yang sedang tidak puasa saat itu) di Roti Ganda yang baru buka jam 10 pagi. Yang khas disitu adalah krim isi meses dan srikaya. Kami pesan 2-2nya.. Tips dari adek Ipar: Beli yang mini saja karena lebih empuk rotinya dan emang betul saat roti ini dimakan di waktu maghrib, tetap empuk dan enak. Saat disana, saya beli oleh-oleh selai srikaya untuk mama mertua di rumah.

Source foto: Trip advisor

Source foto: Tokopedia

Selesai dari Roti Ganda, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Toba. Kami tidak berhenti-berhenti lagi setelah dari Roti Ganda, perjalanan sekitar 2.5 jam dari Pematang Siantar. Begitu sampai di gunung daerah Danau Toba, kita semua disambut oleh monyet-monyet yang tersebar di seluruh penjuru. Mereka di pinggir jalan hidup biasa tanpa takut dengan mobil-mobil yang lewat. Sesaat agak sedih sih karena sebetulnya itu habitatnya mereka. Anyway, kita berhenti sebentar di salah satu entrance Danau Toba.

Setelah itu kami melanjutkan ke pelabuhan Ajibata untuk nyeberang ke Pulau Samosir. Kami membayar sebesar sekitar 15rb per orang dan sudah dapat life safe jacket. Lucunya saat kita sedang menunggu penumpang yang lain, banyak anak-anak kecil di air yang meminta-minta untuk dilemparin uang, ada yang lempar koin, ada yang lempar uang kertas. Mereka semangat banget untuk nyelem dan menjemput rejeki mereka yang dilempar orang itu. Perjalanan dari pelabuhan ke Pulau Samosir sekitar 30 menit, iyaa Danau Toba itu sebesar itu.

Pulau Samosir

Di dalam Samosir kita berjalan kaki ke tempat wisata yang paling dekat dengan pelabuhan, kami jalan melewati pasar sambil melihat-lihat kekhas-an produk-produk sekitar seperti ulos dan lain-lain.

Kemudian kami mampir ke Batak Museum yang di dalamnya ada banyak benda peninggalan jaman dulu yang digunakan oleh masyarakat batak. Agak ngeri-ngeri gimana gitu di dalem.

Bukit Simarjarunjung

Tempat ini termasuk wisata kekinian untuk selfie yang menyedot perhatian para turis-turis, yasud kita coba lha yaaaa.. yang menarik karena panorama danau toba-nya indah di situ. Masuknya gratis hanya parkir saja, tapiiiiii setiap pojokan tempat selfie-nya harus membayar sekitar 5 ribu per orang. Lokasinya asik dan asriiii bangett.. bisa menikmati keindahan alam. Bukit Simarjarunjung ini berlokasi di Jl. Simarjarunjung, Desa Parik Sabungan, Kecamatan Dolok Perdamean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Ini contoh beberapa spot yang kami pilih untuk untuk berfoto..

 

Selesai dari tempat ini kita langsung menuju ke penginapan Sibayak di Brastagi, tempatnya murah dan cukup nyaman. Untuk kita yang hanya semalam saja, sangat cukup sekali.. Dan aku baru tahu bahwa Berastagi itu dingin! Tapi disana sedia air hangat, jadi nggak masyalah. Paling kalau berbanyak orang, bawa ekstra selimut akan sangat membantu.

Brastagi

Di Brastagi kita buka dan sahur. Makanan cukup beragam, tempatnya ngingetin aku dengan Batu atau Puncak. Adem, tipikal kawasan pegunungan, dan orang-orangnya juga santai gitu. Sebetulnya banyak sekali yang bisa dilihat dan didatangi diBrastagi, tapi karena waktu kita limited, bener-bener cuma sepagian aja (kita harus pulang tengah hari kalau mau ngikutin takbiran hari itu). Tapi for info, bisa lihat-lihat disini apa yang bisa didatangi dan dilihat di Brastagi.

 

Pasar Buah Berastagi. Harus banget banget banget kesana! Untuk pecinta buah, kalian bisa kalap.

 

Taman Alam Lumbini Brastagi

Terakhir setelah kita main-main ke pasar, kita ke Taman Alam Lumbini Brastagi. Taman Alam Lumbini adalah candi Budha yang lokasinya di Desa Dolat Rayat, Berastagi di Sumatera Utara. Katanya, saat upacara pembukaan, dihadiri oleh lebih dari 1.300 biksu dan lebih dari 200 umat awam dari seluruh dunia. Tempatnya gedeeee banget.. dan modelnya memang taman gitu, banyak space di bagian depan jadi bisa untuk berfoto-foto.  Disana ada pilihan untuk foto dengan baju adat, yang mirip dengan baju adat hanbok korea. Aku kurang paham itu baju adat mana dan apa sejarahnya. Kita sih foto-foto tanpa modal aja.. Ohya terus kalau ke bagian bawah bisa ke arah hutan kecil dan air terjun kecil. Semuanya hijau dan alam banget.. small treasure yang nggak kelihatan kalau kalian nggak eksplor. Jadi memang ini bukan hanya candi Budha aja…

 

Nah setelah dari situ kita kembali ke kota Medan. Nginap di Medan 5 hari ekstra, selebrasi Idul Fitri di sana dengan keluarga suami. Kemudian lanjut deh ke Surabaya, kota kelahiran dan kota tercinta. Aku jadi punya perspektif berbeda setelah melihat beberapa kota di Indonesia. Keragaman budaya, kuliner dan alam Indonesia itu wow sekaliii!!!

Okelah, kira-kira seperti ini kemarin dengan waktu yang sempit di Medan. Kalau mau memanfaatkan 2 hari di Medan, semoga itinerary ini berguna yaaa…

 

Finance Hidup Minimalis

Pengalaman Investasi

22nd August 2019 - 6 min read

Setelah kemarin sempat membahas mengenai relevansi antara finansial dan hidup minimalis, next thing is what to do with the extra money saved. Untuk saya intinya adalah dialokasikan ke hal yang lebih prioritas. Prioritas bisa sangat berbeda-beda tiap orang, untuk aku sendiri bisa ke hal-hal seperti travel, sedekah, juga investasi.

Ini adalah salah satu pertanyaan yang sering aku terima begitu membahas mengenai finansial. Investasi kah? Kalau iya, investasi kemana?

Tabungan itu adalah suatu hal yang tidak dapat diganggu gugat setiap bulannya. Kami menargetkan sekitar 10-30% tergantung kewajiban yang harus dijalani di bulan tersebut. Tapi kadang sisa dari pengeluaran di bulan itu, juga menjadi sumber dari uang yang kami masukan ke pos investasi.

Aku akan sharing berdasarkan pengalaman aku dan Damar, kemana-mana saja mengalokasikan tabungan kami untuk berinvestasi. Sebagai milenial di jaman sekarang dimana lifestlye bisa disalah artikan dan jadi prioritas utama, kita harus banget membuat target finansial dan rencana dimana kita akan berinvestasi, karena membiarkan di bank saja tidak cukup. By the way, berdagang juga bisa jadi moda investasi lho, dan disini saya pun melakukannya.

Sebelum mulai, ada 2 macam investasi, yaitu Physical Investment dan Financial Investment.

Physical Investment – Berwujud, contohnya rumah, emas batangan, lukisan, tanah, dan lain-lain
Financial Investment – Tidak berwujud, atau terkadang berbentuk surat atau kertas, contohnya Saham, Reksadana, Forex, peer to peer landing, Surat hutang dan lain-lain

Kebetulan keduanya kami lakukan. Untuk physical investment kami alhamdulillah ada rumah dan untuk financial investment kami mencoba beberapa hal berikut

  1. Deposito
  2. Surat hutang negara
  3. Reksadana
  4. Saham.

Kenapa kami nyoba beberapa hal? karena kami ingin mencoba-coba mana yang paling cocok dengan kebutuhan kami. Dan ke-4-nya memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Kira-kira pros dan cons-nya seperti ini.

PROS CONS
Deposito Pasti, Bisa dilakukan kapan aja, Dijamin oleh bank yang kemudian
ditanggung pemerintah, , Mudah, Bisa di roll over
Bisa diambil saat jatuh tempo (bisa milih kapan harus diambil, semakin lama,
semakin banyak return-nya),
Riba masih tidak jelas statusnya
Surat Utang Negara Pasti, Hanya bisa dilakukan di waktu tertentu, Dijamin oleh negara,
Bunga lebih tinggi dari deposito – bisa memilih pilihan syariah (SUKUK)
Uang di keep 2 tahun
Reksadana Diversifikasi risk lebih mudah, bisa dicairkan kapan saja,
return untuk jangka panjang
Harus memilih produk yang sesuai
Saham High risk – High Return Agak ribet untuk set up account
Rumah Property value cenderung akan selalu naik, bisa disewakan High investment, tidak dapat diprediksi, perlu cost untuk maintain,
absen-nya penyewa

Beberapa hal untuk dijadikan pertimbangan adalah latar belakang dari dimana kita menginvestasikan (perusahannya, banknya dll) apakah memiliki rating dan sejarah yang baik atau tidak. Disini aku tidak akan membahas mengenai perdebatan riba dan kaitan perusahaan-perusahaan yang kami pinjami uang dengan apakah mereka korupsi, apakah mereka do something good for the society yang berhubungan dengan gaya hidup yang aku anut, karena ini riset pribadi dan juga menggunakan feeling/instinct. Saat kalian tidak merasa benar atau tidak tenang, jangan dilakukan!

Di post kali ini aku ingin cerita salah satu instrumen yang relatif ramah, yaitu Reksadana. Uang bisa dicairkan kapan saja, return cukup okay dibanding deposito plus kamu juga tidak perlu untuk terus monitor.

Tapi pertama-tama, tujuan berinvestasi itu penting. Buat apa dan untuk jangka waktu berapa lama kita harus tahu. Kita harus bisa bedakan yang namanya main dan nabung saham. Reksadana itu lebih tepat disebut dengan menabung, tapi memang keuntungannya per bulan tidak seberapa. Kalau untuk short term dan high investment, main saham saja, tapi harus ada deep knowledge mengenai ini, harus ngerti banget dan banyak waktu untuk mantau juga banyak uang di awal. Kalau Reksadana, dipercayakan ke asset manager (manajer investasi) yang punya waktu dan pengetahuan.

Reksadana is not for everyone. Karena ini untuk orang-orang yang punya tujuan investasi memang untuk di masa depan. Harus sabar dan jangan gatel untuk dicairin. Uangnya memang bukan untuk sekarang, tapi untuk 5 tahun bahkan 10 tahun kedepan.

Dimana belinya Reksadana?

Bisa ke kantor manajer investasi (tapi cabangnya tidak banyak), ke bank atau online. Enaknya kalau online itu bisa diakses kapan aja dan mudah. Sekarang ada banyak banget platform diluaran sana yang menawarkan jasa penjualan reksadana, tapi saat dilihat-lihat banyak banget pilihan produknya jadi bingung sendiri. Terus kebanyakan perlu modal paling nggak 100rb, sampai akhirnya menemukan si Ajaib. Dia bentukannya aplikasi, sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK & Kemkominfo, bisa mulai investasi dengan minimum modal awal sebesar Rp 10.000 lewat proses pembukaan akun online hanya dalam 1 menit!

Bekerjasama dengan manajer investasi terbaik yang berpengalaman lebih dari 20 tahun, tanpa biaya pembukaan akun, tanpa biaya proses pembelian, penjualan dan pengalihan dan yang paling enak itu ada fitur live chat dengan ahli keuangan Ajaib.

Kalian bisa pakai referral code ku – muri912

Dengan kode referral ku kalian bisa mendapat 10rb ekstra, dan aku bisa main di ‘magic carpet’ dengan kemungkinan mendapatkan 10rb-1juta reksadana gratis.

Apa yang masih aku gunakan sekarang setelah mencoba?

Surat Utang Negara, Reksadana dan Rumah.

Baby and motherhood Hidup Minimalis

Minimalist Baby Essentials (Bahasa)

7th August 2019 - 8 min read

Tau kan kalau aku tipe orang yang suka tulis goal hehe. Suka membuat goal dan tujuan spesifik dalam hidup. Karena ada perasaan luar biasa saat suatu goal bisa tercapai. Dan karena kalau nggak, hidup yang akan mengatur kita, bukan sebaliknya. Ada yang bisa relate kah?

Begitu juga saat aku hamil. Kalau bicara soal kehamilan, memang banyak hal yang tidak bisa manusia kontrol. Tapi banyak juga yang bisa kita kontrol termasuk plan apa-apa saja yang mau dilakukan saat hamil dan saat bayi sudah lahir. Kemarin sudah sempat cerita goal-goal saat hamil. Saat bayi sudah lahir, salah satu yang menjadi goal-ku adalah menciptakan lingkungan yang cukup, namun berkualitas dan sehat untuk bayi kami.

Kata cukup pasti akan menjadi perdebatan karena definisi cukup setiap orang berbeda. Dalam hal ini, yang aku maksud cukup adalah lebih kepada barang-barang persiapan yang esensial untuk dimiliki. Walaupun ini anak pertama kami, dimana umumnya ibu ingin membeli semuanya, aku ingin lebih sadar dalam mengkonsumsi dan berusaha seminimal mungkin dan tidak berlebih. Sering sekali aku mendengar teman-teman yang saat anaknya lahir mengatakan kalau jangan beli a,b,c,d,e terlalu banyak karena tidak akan dipakai dan lain-lain.

Aku berusaha membaca pattern-nya dan merangkumnya disini. Bayi kami memang belum lahir, jadi nanti saat baby-nya sudah disini aku akan update soal what works and not. Karena setiap kebutuhan bayi berbeda, jadi memang harus dipraktikan dan dilihat. Intinya, aku tidak ingin menyiapkan sesuatu terlalu banyak yang belum tentu bayiku butuhkan. Jadi, esensial yang minimal adalah my go-to-direction. Pun dari segi warna, walaupun kami tahu gender anak kami, kami memutuskan untuk memilih warna yang unisex, grounded dan earthy. Simultaneously whisper for the baby to be one. Aamiiiiinn.  Unisex agar nanti bisa diturunkan ke adik-adiknya hehe because why label specific gender with one color. Selain itu karena aku juga suka yang sangat simpel, plus bisa mix and match dengan barang-barang yang lain. Karena selama ini aku lihat, memang banyak sekali motif anak-anak yang lucu-lucu, tapi kalau beli yang motif semua akhirnya jadi tabrakan satu sama lain. Dan mataku agak terganggu dengan itu *don’t mind my personal preference 🙂

By the way, sejarah manusia jaman dulu, orang tua berhasil membesarkan bayinya dengan barang yang sedikit/secukupnya. Banyak penemuan-penemuan yang sebetulnya tidak necessary untuk dikonsumsi. Dan aku berusaha untuk mempersiapkan dan riset sebanyak mungkin.

ps. aku nggak beli baru semuanya, beberapa ada yang hand down dari temen and I love it so much. It’s more sustainable that way. Dan kalau aku beli, aku berusaha sekali produk lokal dan dengan material yang sustainable. Nanti suatu saat kalau semua sudah lengkap akan aku share brand favoritku yaa..

Ohya, jangan malu untuk tanya teman atau orang disekitar yang sudah memiliki anak apakah ada barang yang sudah tidak digunakan lagi dan berkenan untuk dijual. Umumnya orang gengsi untuk bertanya, dan yang memiliki barang pun malu untuk menawarkan karena adanya stereotype diluar sana yang menganggap barang tidak seharusnya second hand. So shaaaddd. Sedangkan itu adalah salah satu cara untuk hidup sadar dan berkelanjutan, karena umur bayi itu sangat pendek dan umumnya barang-barangnya masih bagus. Pun biasanya, ibu-ibu itu bingung mau diapakan bajunya.

 

Okay, here we go!

 

Source: https://www.farmhouseonboone.com/farmhouse-on-boone/minimalist-baby-essentials-baby-checklist/

1. Muslin – Apakah Muslin ituuu? Muslin itu sebetulnya adalah kain katun serbaguna yang sangat amat bermanfaat untuk banyak hal. Contohnya, untuk swaddle (bedong), sebagai burp clothes (lap gumoh atau iler), penutup stroller, nursing cover (cover untuk menyusui), untuk menghangatkan bayi, tatakan makan dan lain-lain. 1 fabric for all. Please jangan beli kain sintetis ya.. Malah sebisa mungkin katun organik.

2. Clothes

  • SleepsuitSleepsuit ini digunakan untuk tidur di malam hari. Sebisa mungkin dibedakan dengan baju keseharian, agar bayi tahu perbedaan dan bisa memiliki ekspektasi bahwa saat dia mengenakan baju itu, adalah waktunya untuk tidur. Gitu katanya… Biasanya pula, sleepsuit ini yang tangan dan kakinya panjang agar bayi selalu hangat sepanjang malam
  • Rompers / onesie / baju monyet – Itu lho baju yang ada kancingnya di bagian paha. Ini baju wajib untuk sehari-hari. Untuk newborn baby, tips-nya adalah beli baju yang buka bagian depan (kancing, zipper, tali dll) untuk memudahkan mengganti popok. Atau kalau nggak, beli yang dibagian lengannya lekukan supaya bisa membuka ke bawah.
  • Hat, socks (kaos kaki) + mittens (sarung tangan) + bibs – ini wajib untuk bayi baru lahir untuk menjaga suhu tubuh, tapi nggak perlu banyak-banyak. Aku persiapin 2 biji sih untuk topi dan  pasang kaus kaki dan mittens.
  • Baju pergi – nah ini nggak perlu banyak-banyak apalagi untuk bayi baru lahir. Beberapa biji aja, karena bayi akan lebih banyak di rumah atau digendong dengan bedong.

3. Crib – Banyak sebetulnya alternatif dari crib ini, kemarin ngobrol-ngobrol dengan beberapa temen yang sudah punya bayi. Ada yang bayinya ditaruh di kasur dengan baby nest atau bantuan tudung bayi agar tetap aman, dan lain-lain. Aku sendiri memutuskan untuk pakai crib karena cita-citanya agar bayi bisa mandiri. Nah ini perlu dilihat nanti praktiknya bagaimana, tapi harapan masih besar untuk stick dengan itu.

4. Bantal+Guling+Perlak+Selimut – Aku beli 1 set yang isinya 1 bantal peyang, 2 guling kecil, 1 perlak. Kemudian secara terpisah aku beli 1 ekstra perlak dan juga 1 selimut.

5. Mainan empuk + Buku – Ini secondary dan nggak harus disiapin sebelum bayinya lahir sih. Karena newborn belum terlalu perlu. Tapi menurutku ini salah satu hal esensial yang harus dibudgetkan. Untuk setelah anaknya sudah bisa main-main, aku bercita-cita untuk hanya memberi mainan dari kayu. Paling tidak kayu lebih dominan, plastik sedikit-sedikit saja 🙂

6. Barang-barang hygiene 

  • Sabun shampoo
  • Ember Mandi + attachment yang untuk newborn
  • Handuk
  • Waslap
  • Minyak telon
  • Deterjen baby
  • Baby (clothes) wipe
  • Cloth diaper
  • Sisir + potongan kuku
  • Alkohol
  • Kapas bulet-bulet

7. Carrier (untuk gendong)

8. Car seat – kami ingin membiasakan anak kami duduk di seat khusus di dalam mobil

9. Opsional: Aksesoris, instant swaddle, manual breast pump

10. Laundry basket dan basket untuk yang kotor-kotor (cloth diaper, baby wipes)

Kira-kira itu dia perlengkapan yang esensial. Kami juga akan punya hanya 1 drawer yang akan berfungsi juga sebagai tempat ganti popok di atasnya. Jadi nggak perlu beli meja alas ganti popok khusus.

Ohya, kami memutuskan nggak beli stroller dulu karena pengen baby wearing at least di bulan-bulan pertama, kemudian observe lagi apakah nanti perlu atau nggak 🙂

Salah satu tips juga untuk menjadi minimalis adalah cari barang yang sebisa mungkin multifungsi. Karena dengan marketing jaman sekarang, kadang jadi bias dengan fungsi dari suatu benda.

Nanti insya Allah aku juga akan share tips-tips dan yang harus dipikirkan di mindset untuk menjadi minimalis saat punya bayi. Stay tuneee…

 

Update baby: 31 weeks hari ini, all good and healthy alhamdulillah. Posisinya masih breech, tapi memang dia masih punya banyak space untuk jumpalitan. Minta doanya agar posisi menjadi optimal yahh…

 

Love

Picture source: https://noblecarriage.com/collections/flower-baby?utm_medium=Social&utm_source=Pinterest

 

Baby and motherhood Milestone

2nd Trimester dan Must have/do – Pregnancy Update

16th July 2019 - 13 min read

Today, my baby is the size of a puppy

Alhamduilllahirrobilalamin, 2 hari yang lalu tepatnya hari Selasa tanggal 16 Juli 2019, kandunganku tepat menginjak 28 minggu/7 bulan. Bahagia tak terkira bisa sampai hingga hari ini mengandung. Nggak kerasa tiba-tiba sudah segede gini, dan waktu mengandung tinggal sedikit lagi, sekitar 2.5-3 bulan lagi.. I really just want to cherish this moment. I don’t want to take this magical moment for granted, because I’ll surely truly miss it. Although sometimes I forgot when I was too busy. Karena beberapa minggu ini lagi nggak fit, akhirnya aku memutuskan untuk cuti sejenak dari rutinitas organisasi dan bisnis Zero Waste Indonesia, walau nggak bisa 100% tapi perasaan overwhelm itu bisa lebih termanage dengan baik. Bersyukur punya partner yang sangat suportif dan mengerti, juga partner di rumah (baca: Damar) yang juga mengerti sekali kondisiku. I am so blessed and forever grateful! Allah memberi amanah dengan segala pertimbangan, masya Allah. RencanaNya emang yang paling baik.

Anyway, sampai hari ini aku masih batuk, walau sudah jauuuuuhhh sekali mendingan. Sama dokter sampai diberi obat dan antibiotik karena terlalu lama dan sudah mengganggu, you don’t know how sad I was pas dikasih resep. Tapi semoga semuanya baik-baik saja, bayiku tidak apa-apa. Aku berusaha untuk minum air yang sebanyak-banyaknya untuk rinse out residu racun-nya. Semoga ini menjadi bentuk proses dan perjalanan ku dan bayi untuk memiliki tubuh yang semakin kuat.

So, my due is October 9th… Jadi kalau dihitung, hari ini tepat 83 hari menjelang persalinan.. Semakin deket rasanya semakin nggak sabar untuk ketemu.

Di trimester kedua ini beda dengan trimester pertama, dimana waktu itu yang diingat hanyalah kemualan dan kemasuk anginan yang menyerang setiap hari. Aku inget banget, tanggal 22 Maret 2019 (kira-kira usia 12 minggu) saat aku diajak kolega-kolega untuk makan dimsum sebagai bentuk perpisahanku, I could feel that my appetite was slowly back! I could eat quite a lot of food dan semangat banget pas makan di hari itu. Sesuatu yang agak hilang beberapa bulan belakangan. Lemes pusingnya masih ada, tapi paling nggak mualnya sedikit demi sedikit hilang. Dari hari itu, aku berangsur-angsur bisa menatap cerah masa depan kembali heheh.

Masuk ke trimester 2, rasanya lebih seger dan berenergi. Orang bilang trimester kedua adalah yang paling mudah. That’s right, in my experience. Mudah dalam artian untuk aku, sudah nggak mual-mual, tapi perut masih belum terlalu beser untuk gampang capek.

Dan di trimester 2 juga, aku harus pindah ke Indonesia, keputusan yang sudah lama kami buat. Harus pindahan, settle di tempat baru, nggak kenal siapa-siapa, berkewajiban untuk jalankan organisasi/bisnis, kalau dipikir-pikir kembali bukan hal yang mudah juga yaaa… Tapi alhamdulillah semua dimudahkan, bayinya kuat sekali dan Damar is everythingNever for once he complained, walaupun aku kadang juga demanding dan ngerepotin. He did almost everything untuk persiapan pindahan, packing-packing *di pojokan nangis* Apalagi di trimester 2, aku makin clingy sama Damar. Nggak mau jauh-jauh.. heheh nempel muluk. Salah satu love language-ku yang dominan adalah physical touch. Dan semakin menjadi saat hamil hehe

How am I feeling? 

I am feeling great, except the cough that still happens yang kadang bisa bikin sampe muntah kalau batuknya pas habis makan. Kalau udah kaya gitu biasanya lemes… During the day, capek dan kepengen rebahan walau nggak harus tidur. Walaupun it’s the easiest trimester, tapi going towards 3rd trimester, another day can be a surprise gitu. Jadi one day I feel sooo nourished and energetic, one day feel tired. Bisa gitu yakkk..

Aku ngerasa lebih bisa bonding dan ngobrol dengan si bayi juga karena gerakan dan tendangannya yang sudah sangat aktif semenjak di bulan ke5. It just seems more real!!!!! Oya, we also found out the gender! Insya Allah it’s going to be a baby girl! That little girl is strong and loves kicking. And I think we found a name 😉 

Sekarang aku ngerasa semakin ngejar-ngejar target, karena aku punya beberapa target untuk diriku sendiri yaitu Khatam Alquran, nyelesein semua buku kehamilan dan bayi yang aku punya, beli perlengkapan bayi (dengan riset terlebih dahulu), buat birth plan dan nyari tempat untuk melahirkan karena bercita-cita ingin homebirth jadi harus mendekatkan ke rumah sakit dokterku, dan hal-hal lain. The clock is ticking. But in the mean time, I also have to enjoy every moment and be present. 

Yang jelas, I feel grateful everyday for her growth and everything else. 

 

Aktivitas apa saja yang sekarang ditambah?

  • Yoga – usaha setiap hari. Dan setelah yoga, badan dan pikiran jadi lebih enak memang rasanya. Bisa ngebantu banget untuk badan dan back pain.
  • Kegel – usaha setiap hari. Katanya ini akan berguna untuk melenturkan perineum (mulut vagina). Doa dan afirmasiku setiap hari adalah perineum utuh. Aamiiin!
  • Swimming (tapi nggak rutin)
  • Sujud-sujud, karena saat dicek di 24 minggu, kepalanya masih di atas. Jadi sujud-sujud deh, alhamdulillah sekarang sudah di bawah, tapi untuk mempertahankan dan lebih optimal posisinya, harus sujud/downward dog. Tipsnya: sujud saat baby-nya lagi gerak, kalau nggak percuma kata bidan.
  • Baca buku lebih rajin – usahain setiap hari
  • Nonton video pelajaran untuk ibu bayi melahirkan menyusui dll di youtube aja sih.. favoritku adalah Andien, Alodokter, parentalk, Sarah Therese, dan some random western videos. 
  • Berjemur antara jam 9-11 pagi selama 20 menit
  • Minum suplemen Hemoglobin dan Kalsium, sebagai tambahan dari asam folat dan omega 3
  • Jalan-jalan online untuk cari perlengkapan baby yang kurang
  • Mulai mikir soal birth plan
  • Ngajak ngomong baby lebih rutin – she understands more and more
  • Cari rumah untuk homebirth nanti
  • Massage – yang ini nggak rutin sih. Tapi I feel like I needed it more than ever heheh.
  • Ohya dan baby udah bisa lebih lagi ngerasain makanan yang masuk lewat plasenta dia, in which makanan yang aku makan. Super magical how things work. Kebesaran Allah yang luar biasa.
  • We start calling her by name 🙂 

What really helps?

  • Maternity pillow – aku pakai punyanya Omiland, merk lokal. Harganya 200 ribu saja! Di pertengahan trimester 2 mulai ngerasa ngebantu dan nambah rasa nyaman terutama dengan perut yang semakin besar. Kekurangannya adalah jadi agak jauh sama Damar pas bobo karena di bagian belakang ada penyangga-nya. Jadi ada pemisah di antara kita hehe Tapi bantal ini ngebantu untuk back pain sih karena ada penyangga untuk punggungnya untuk meningkatkan kenyamanan. I recommend it!

Image result for omiland maternity pillow

  • Talk and share with friends – kebetulan di sekitarku ada beberapa orang yang lagi hamil, jadi bisa sharing dengan mereka. Nggak hanya itu, tapi juga banyak sharing dan nanya-nanya ke orang terdekat yang memang sudah berpengalaman seperti kakak perempuan dan kakak ipar. Lebih kepada printilan esensial sih yang aku tanya. Juga mungkin pertanyaan yang berhubungan dengan tips-tips.
  • Tidur dengan bantal agak tinggi – karena di trimester 2 ini lebih mudah untuk heartburn, perasaan panas di dada kaya habis makan pedes. Sekarang tahu rasanya heartburn, karena seumur-umur belum pernah. Menggunakan bantal yang agak lebih tinggi dari biasanya bisa sangat mengurangi. Kenapa heartburn? dengan perut yang semakin besar, jadi mendorong lambung dan ususnya ke atas.
  • Pakai reusable mini menspad kalau pergi – karena gampang pipis, sesuatu yang hanya terjadi saat hamil(!). Bisa banget pas lagi batuk atau bersin itu nggak sengaja keluar pipis walaupun kita nggak mau. Nah menspad ini ngebantu bangetttttt.. Aku cuci kering pakai setiap hari. Punya 2 aja cukup kok.
  • Pakai oil untuk stretchmark – aku pakai Bio Oil kaya dibawah ini. Dulu belinya di Belanda sekitar 15 euro, kalau dirupiahkan sekitar 250rb. Tapi di apotik dan marketplace juga ada kok di Indonesia. Aku direkomendasi beberapa orang waktu di Belanda dulu, katanya one of the best dan ini juga ternyata untuk menghilangkan bekas luka hmm. So, let’s see how it works out. Sekarang alhamdulillah masih belum muncul stretchmark-nya, masih aman..Image result for bio oil
  • Air hangat jeruk untuk tenggorokan dan eo/ vicks untuk leher di malam hari – Untuk aku yang lagi batuk-batuk dan nggak enak badan, enak banget dan ngebantu untuk minum air hangat lemon dan juga dikasih eo atau vicks di malam hari.
  • Prenatal gear atau big clothes – Masuk ke sekitar 18-20 weeks, badan udah kelihatan banget perubahannya. No people can say they don’t know we’re pregnant heheh Nah disini, aku masih bisa mix dengan baju-baju keseharianku karena bajuku cenderung besar-besar. Tapi kalau celana, sudah nggak bisa. Harus pakai celana hamil. Ohya alhamdulillah aku dapat lungsuran beberapa baju dari sahabat-sahabat. So here is my prenatal gear:

1. 2x workout legging (dikasih)

2. 1x maternity jeans (beli di H&M)

3. 1x maternity sweater (dikasih)

4. 2x maternity dress (dikasih)

5. 4x kaos hamil (dikasih)

6. 3x Bra extender  (beli dulu di Belanda, tapi bisa cari di marketplace – ini ngebantu banget sih karena sebetulnya yang diperlukan hanyalah bra yang sedikit lebih lebar jadi nggak perlu beli bra baru)

Image result for bra extension

7. 2x bra menyusui (beli di H&M, dan aku belum pakai karena belum perlu)

  • Surround with positivity, with people who give positivity only! it’s okay to be selfish. Lots of inhale and exhale.
  • Tell expectation to partner – Please, jangan berharap suami kita bisa mengerti sendiri. Tell him what to do! Karena sebetulnya dia ingin sekali bantu, tapi karena nggak ngerti secara otomatis yang kita rasakan, dia juga nggak bisa nebak apa yang kita butuhkan. I try my best to include him in every moment, karena apa, karena kita hamil bertiga. He has a lot of keys and roles in here. Tiap ingat sama yang Damar lakukan di beberapa bulan belakangan ini, aku selalu terharu dan senyum, sadar, how he love us both. He’s done so many things, although he does not understand the feeling, but he’s always there for me.
  • Ritual – bikin ritual dengan suami dan dengan baby. Seorang teman bilang bahwa ritual yang dilakukan akan diingat oleh baby nantinya. Entah itu conversation, sentuhan, baca buku atau nyanyian. Nanti saat dia lahir, dia akan nyaman saat orang tuanya melakukan hal itu. Aku suruh Damar nyanyi, tapi dia nggak mau haha jadi ajakan bicara/afirmasi positif dan sentuhan dengan bio oil di malam hari saja sebelum tidur.

Intinya, orang hamil bukan orang sakit. Tapi, karena ibu hanya sebagai vehicle, maka Ibu harus jeli mendengarkan apa yang tubuh butuhkan. 

Semoga kalian yang diluar sana yang sedang hamil selalu dimudahkan, dilancarkan dan selalu sehat yaaaa.. Yang masih menunggu semangat selalu, ini waktunya untuk membaca dan mengumpulkan ilmu Insya Allah dia akan datang di waktu yang tepat aamiin.

Love,

Finance Hidup Minimalis

Mengatur Finansial dengan Gaya Hidup Minimalis (Free template)

10th July 2019 - 7 min read

Caution: Aku bukan konsultan finansial professional or whatsoever and I am not that filthy rich. Hanya berdasarkan pengalamanku, minimalisme dan finansial memiliki banyak keterkaitan.  Menurut aku, konsep itu sangat mengajarkan bagaimana kita berkesedaran dengan konsumsi kita, less on the materialistic thing that adds joy and we are passionate about. And I want to share with you about it..

 

Semenjak mengubah diri menjadi lebih berkesadaran dalam hal konsumsi, mau tidak mau hal itu memberi efek kepada bagaimana caraku mengeluarkan uang. Karena menurutku things don’t spark joy just by it is (just like love at the first sight), tapi juga dari history, story and price tag.

Cara aku mengeluarkan uang dan menimbang-nimbang pun berbeda. Aku memastikan semua hal yang wajib/kebutuhan (rent, utilities, mortgage, zakat, tabungan, dll) sudah terbayarkan. Bukan berarti aku sama sekali nggak boleh beli yang aku pengen, tapi aku selalu make sure bahwa yang aku pengen itu memberi nilai lebih di kehidupan aku dan Damar.

Oke, aku cukup banyak berbicara soal memberi value/nilai. Tapi apa sih sebenernya nilai dalam kehidupan kita itu? Tentunya setiap orang akan berbeda dalam mendefinisikan ini, tapi kalau aku boleh sedikit menjelaskan menurut aku. Values atau nilai pada dasarnya adalah hal-hal yang kita percayai penting dan bisa mempermudah kehidupan plus membuat kita bahagia jangka panjang. Contoh: Membeli sebuah baju, beli karena memang baju tersebut belum kita miliki, kita butuhkan, bisa digunakan dalam jangka panjang. Atau mobil misalnya, tapi mobil yang dipilih memang yang betul bisa kita afford (jadi nilai-nya dilihat dari manfaat) bukan terus ambil lease atau cicilan BMW seri terbaru. Kalau carinya yang mobil high class tapi kita sendiri masih kesulitan finansial, itu bukan needs tapi wants. Dan apakah itu menambah value di kehidupan kita?

Ketika hal-hal yang kita lakukan (termasuk yang kita konsumsi) sudah sesuai dengan nilai-nilai yang kita anggap penting, hidup biasanya jadi lebih happy, karena juga akan berefleksi ke tabungan hehe Ini kalau ngomongin nilai-nilai yang berhubungan dengan finansial ya, saat kita bicara soal nilai-nilai personal pun sama, kalau kita tidak menjalankan hidup berdasarkan nilai-nilai tersebut, kita nggak akan happy. Bener nggak?

 

Oke kembali lagi ke finansial.

Satu kunci yang harus kita pegang

 

Spend less money than you make.

 

Karena kita tahu sendiri, aku juga punya pengalaman, berapapun yang kita hasilkan, kalu kita nggak sadar, akun bank kita rasanya selalu punya agenda yang berbeda. Tiba-tiba uang habis aja, no matter how much we get raise. Yang seringnya terjadi adalah saat kita dapat uang, projek sukses, hal yang ingin kita lakukan adalah upgrading (rumah, car, menaikkan lifestyle). Think this way: Kalau kita lebih mindful, hati-hati dalam memilih lifestyle, maka 5-10 tahun ke depan sebetulnya kita akan punya security dan hidup yang lebih baik.

 

Do you notice? Marketing is driven to make us feel we deserve the indulgence. Kita selalu bisa aja menemukan justifikasi untuk membeli sesuatu, karena kita sudah kerja keras dan lain-lain. Tapi kalau kita lihat dari sisi yang lain, dengan kerja keras kita apakah kita deserve to live just paycheck by paycheck? I don’t think so. Kita deserve hidup yang lebih baik dan security di masa mendatang. Kalau kita gak mindful mengkurasi feed sosial media kita, kita akan ngerasa kita harus keep up dan ada ketakutan tersendiri (fear of missing out).

Rich people are rich because they make smart decision. They don’t go out and lease BMW. They don’t rent apartment they cannot afford.

Ada satu hal yang aku ngerasa banget terjadi di society kita, plus aku sering banget denger hal ini. The thing ‘I do not have’. Alasan yang bikin kita pengen beli sesuatu. It’s okay if it’s really needed. But, what often happens is it’s an excuse not to do things. I can’t do this because I don’t have this. Believe it or not, it procrastinates us from our dream. Karena, faktanya adalah membeli sesuatu nggak akan selalu menyelesaikan masalah. Aku punya temen yang ingin membuat video youtube, di awal membeli all the expensive equipments possible, in the end, it leads nowhere, karena ternyata dia nggak seenjoy itu melakukannya dan membuat dia jadi malas membuat video. You see where I am going? Atau kebalikannya, ada orang yang sukses banget jadi youtuber, walaupun di awal hanya menggunakan handphone dan apa aja yang di punya di rumah.

Anyhow, coming more to practice, kesimpulannya begini kira-kira tips dari aku:

 

  1. Be mindful in how we consume and spend. Less on the materialistic things. Put money in what brings you joy
  2. Tentukan dan tulis kebutuhan keluarga juga gaya hidup (arisan, mall, make up dll). Aku pribadi lebih suka menuliskan pemasukan dan pengeluaran satu per satu. Kenapa? Karena dengan menulis, kita jadi sekalian berefleksi mengenai konsumsi kita. Contohnya ‘ya ampun, ternyata aku bayar kopi semahal itu’ atau ‘ternyata dalam sebulan segini total aku jajan diluar’ untuk bulan depan diperbaiki. Saat ini aku menggunakan Template Keuangan Bulanan yang aku buat (downloadable) untuk mencatat cash flow setiap bulannya.

 

3. Jangan terlalu cepat senang-senang. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Karena belanja belanja sesaat, abis itu bingung uangnya kemana?

     4. Give to people who needs, jadi jangan disimpan semua tabungan kalian. Ini hal wajib yang harus dikeluarkan, it’s a need. Dan aku percaya,  berkah dari kebaikan itu akan kembali lagi ke kita Insya Allah

5. Kurasi lah dengan bijak feed instagram dan sosial media kamu

      6. Make more money! Dengan jadi freelancer atau hal yang lain, aku akan bikin blog mengenai ini juga yaaa..

 

Prinsipnya selama cashflow baik, kita juga bisa membuktikan bahwa kita bertanggung jawab dalam mengontrol keuangan dan pada kehidupan kita. Jangan termakan gaya atau trend. Punya sesuatu jangan memaksakan diri. Belum mampu beli yang 1 juta ya beli yang 100 Ribu juga cukup. Belum bisa bayar yang 50 Juta, sanggupnya 5 Juta yauda disitu ajah daripada sulit membayar untuk sesuatu yang sekunder.

Semoga bermanfaat yaaaaa

Hidup Minimalis Zero Waste Journey

Minimalis Zero Waste dan relasi dengan kelola uang

9th July 2019 - 6 min read

Jadi memang dulu aku awalnya hanya nggak pengen ribet dan ngerasa beban karena punya barang banyak, dimana akhirnya mempertemukan aku dengan konsep hidup minimalis/esensialis. Untuk Zero Waste, malah datang tanpa sama sekali berpikir relevansinya dengan gaya hidup yang aku sudah jalankan. Namun lama kelamaan saat melakukan keduanya, aku mengambil kesimpulan bahwa konsep-konsep itu saling berkaitan. Intinya adalah hidup secara berkesadaran. Hanya attract yang menurut kita menambah nilai (value) ke dalam hidup kita. Seperti halnya dalam Zero Waste, berkesadaran dalam mengkonsumsi dengan menimbang terlebih dahulu darimana dan akan kemana perginya sebuah barang tersebut, in which to me, that adds value in my life.

Kalau dihubungkan dengan konsep gaya hidup Zero Waste ada yang dinamakan 5R(+1S).
1. Refuse (menolak)
2. Reuse (menggunakan kembali)
3. Reduce (mengurangi)
4. Recycle (daur ulang)
5. Rot (kompos)
6. Sort (memilah)

Yang ketiga terakhir adalah post consumption, yang ketiga pertama adalah thinking process sebelum kita benar-benar mengkonsumsi. Dalam relasinya dengan kelola uang, kita akan membahas 3R yang pertama tersebut.

Kita hidup di dunia yang nyaman dan selalu sibuk. Tanpa kita sadari, ini sering menyebabkan kita meraih barang-barang terdekat, paling cepat, dan termudah dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak berpikir panjang kembali dan melakukan apa yang ‘normal’nya dilakukan hanya karena orang lain melakukan hal itu.

Sedangkan sebetulnya, ketika kita menjadi konsumen yang lebih berhati-hati, selain membuat hidup menjadi lebih bahagia, juga mengurangi jejak karbon jika dilihat dari sisi lingkungan/ zero waste. Sebagai bonusnya, barang yang dapat digunakan kembali biasanya menghemat uang dalam jangka panjang. Ini bisa menjadi salah satu WHY yang kuat dari melakukan apa yang kalian mau lakukan.

Pada dasarnya adalah…

ONLY BUY AND CONSUME WHAT YOU NEED (and is not packaged with plastic)

Ini beberapa relasi dari hidup berkesadaran dan bijak kelola uang

BERHENTI BELI YANG TIDAK KITA BUTUHKAN

Tapi memang it’s easier said than done, just like other things. Pertanyaan berikutnya adalah gimana caranya membedakan antara kebutuhan dan keinginan? Kebutuhan adalah air untuk minum, makanan untuk dimakan, pakaian untuk digunakan, dan tempat tinggal untuk tinggal. Di sisi lain, keinginan adalah everything else. Keinginan ada di sana untuk membuat hidup lebih enjoyable, (but not necessarily happier).

Life is meant to be lived though. Kita bisa membantu sesama. Kita bisa mencintai diri sendiri by treating ourselves well, tapi treating ini maknanya sangat luassss… Bisa setiap hari setiap detik makan di restoran fancy, beli baju branded, atau simply treating ourselves by buying a nice beautiful long lasting piece of jewelry for once in 10 years. Do it when you can afford to. 

However, for sure, when we have a goal, you’ll think twice about consuming. Whether it’s financial goal or any goal in the lifestyle. So decide what comforts you!

TERHINDAR DARI DISKON
Dengan mindset di atas, jadi terhindar dari tempat perbelanjaan dan diskon karena kita tahu pasti apa yang kita miliki dan yang kita butuhkan. Sering kali, saat ke toko atau happen to be in a mall, aku liat-liatin barang yang dijual disitu. Tapi diputerin aja, dilihatin sambil mikir dan nimbang-nimbang, beli nggak ya, beli nggak ya. Most of the times, aku nggak jadi beli. Kecuali memang sesuatu yang sudah aku incar dari dulu dan memang esensial dalam kebutuhan sehari-hari. Buat aku sekarang, better regret not buying then regret buying, karena aku akan bingung mau diapakan barang itu nantinya. Tips: Buat sebuah section di handphone kamu (di notes misalnya) kalau emang ngerasa pengen banget, list barang-barang itu. Lalu lihat lagi seminggu kemudian, how does it make you feel? kalian berefleksi dari situ apa itu keinginan semu atau memang keinginan yang akan menambah value di kehidupan kalian. Be honest to yourself. Often, you probably even forget to check the list or when you happen to check the list, it reminds you that you actually don’t really need it because you don’t think about it. In this case, delete them. Jangan beli sesuatu karena sedang ngetren atau karena semua orang menggunakannya. You’ll also know saat kamu menunggu dan tidak membelinya secara langsung.

QUALITY OVER QUANTITY
Jadi membeli barang berkualitas yang akan bertahan lebih lama daripada barang-barang murah dengan jumlah yang banyak. Biasanya, beberapa kali pemakaian sudah menjadi usang atau rusak. Jika dikalkulasi jangka waktu panjang akan
menghemat. Di awal kadang memang tertohok dengan harganya, tapi kalau mikir dalam jangka panjang, it is worth it apalagi untuk kita dewasa yang size-nya udah nggak terlalu berubah-ubah. hehe aamiin.

 

Jadi, kira-kira seperti itu manfaatnya. Hidup berkesadaran banyak banget manfaatnya, tapi somehow yang paling diminati adalah topik tentang finansial. Dan aku ngerasain sendiri sih, karena kayanya kalau aku nggak menganut gaya hidup ini, aku nggak akan bisa nabung semudah aku nabung sekarang (well, kemarin pas aku kerja) 🙂

Semoga bermanfaat.

 

to be continued…