Browsing Category

Dreams

Dreams

Mid-Year Review 2019

19th September 2019 - 2 min read

Nggak kerasa udah bulan September aja.. Kalau liat ke belakang rasanya cepet aja tiba-tiba udah mau akhir tahun. Walaupun yang namanya mid year review seharusnya dilakukan di pertengahan tahun, tapi it’s better late than never kan.

Masih ada beberapa bulan untuk merealisasikan yang belum terwujud dan untuk kembali ke track yang kita inginkan di awal tahun. Itu sih sebetulnya kekurangan dari resolusi, goal or whatsoever. It’s all good, tapi nggak jadi bagus kalau kita nggak cek sesekali dan berefleksi.

Ohya, do take note bahwa, nggak ada masalah jika ada beberapa hal yang berubah seiring perjalanannya, kita boleh ambisius tapi tidak seambisius itu untuk menutup mata bahwa sesuatu tidak realistis terjadi dalam rentang waktu 3 bulan (Oktober, November, Desember). Yuk kita lihat kembali sejauh apa kita dengan goal dan resolusi kita dengan 3 pertanyaan ini

  1. Apakah tahun ini sudah sejalan dengan tema yang kita pilih di awal tahun? 
  2. Apa yang sudah aku capai yang paling aku banggakan?
  3. Yuk cek lagi goal yang kita tulis dan hapus goal-goal yang sudah nggak realistis untuk dicapai?
  4. Apa 3 prioritas yang ingin dicapai dalam waktu 3 bulan ke depan?

Sekarang rasanya jadi back on track lagi and that’s the whole point. It’s okay to go out of track as we are all human being, but make sure we are conscious what we are doing and go back on track.

Baby and motherhood Dreams Milestone

Dia yang ditunggu….. (1st Trimester Update)

18th May 2019 - 9 min read

Alhamdulillah..

WE’RE PREGNANT!!

Salah satu alasan kenapa udah nggak rajin bikin video kemarin-kemarin ini dan sedikit MIA (missing in action). Semoga menjawab yahh.. Alhamdulillahhirobilalamin, puji syukur diberi amanah oleh Allah dan dipercayakan untuk mengandung bayi kecil.

It’s been the longest 4 months, karena kita pengen sekali bilang ke semua orang. Begitu tau kalau hamil rasanya pengen teriak dan bilang ke seluruh dunia, tapi nggak bisa karena hamilnya masih terlalu muda takut kenapa-kenapa. Apalagi inget cerita teman yang pernah hamil kosong (liat disini untuk tahu apa itu hamil kosong) dan itu baru bisa diketahui di atas 7 minggu. Jadi waktu tes dan positif pengen biasa-biasa aja supaya nggak kecewa. Plus orang-orang tua bilang kehamilan di trimester pertama masih sangat rawan, jadi ingin hanya fokus menjaga dan tidak pressure ke siapa-siapa mengenai progress kehamilan.

DO WE EXPECT THIS? 

YES WE DO. We never taken a decision, especially such a big decision like this, lightly. Dari awal kita menikah, kita nggak ingin menjadi pasangan yang begitu menikah langsung punya anak, walaupun kalau diberi nggak akan nolak dan pasti akan disyukuri. Menurut kami memiliki anak adalah sebuah tanggung jawab besar yang nggak bisa main-main. Untuk kami saat itu kami masih terlalu egois untuk bertanggung jawab dengan orang lain apalagi anak kecil yang hidupnya bergantung dengan kita. Kami ingin berdua dulu, membentuk sebuah tim yang solid dan mencapai hal-hal yang kita ingin capai. Ego-nya masih tinggi lah istilahnya. Plus ingin masih menabung dan lebih nyaman demi memberi yang terbaik ke calon anak kami.

Kami ingin saat memutuskan di kondisi yang siap (walaupun nggak akan pernah 100% siap). Walaupun perasaan ingin menjadi ibu nggak bisa dibohongi untuk perempuan, karena kita juga kan punya jam biologis. Jadi keinginan itu sering datang. Damar yang selalu mengingatkan dan berusaha realistis, selalu bertanya kembali ‘bener sudah siap?’. Dari situ selalu berpikir ulang, begitulah kira-kira hampir 3 tahun pernikahan kami. Selalu lupa, dan enjoy karir dan mimpi-mimpi yang ingin gapai. Dimana di salah satu mimpi itu ada dia, calon anak kami.

Sampai saat kami berangkat ke tanah suci kemarin. Perasaan itu semakin menggebu-gebu, Damar masih teguh pada pendiriannya, tapi perlahan mulai berpikir juga ke arah situ. Kami berdua berdoa diberikan yang terbaik dan minta diyakinkan, plus agar diberi kesiapan oleh yang maha pencipta. Dari situ kami berikhtiar untuk mulai mencoba.

HOW/WHEN WE FOUND OUT

Hari itu tanggal 1 Februari. Beberapa hari yang lalu badan rasanya nggak enak, sedikit mual dan malas. Tapi kupikir karena obat thyroid-ku habis. Baca mengenai thyroid disini. Aku akan cerita lebih lanjut dibawah. Intinya, thyroid juga mempengaruhi level energi dari seseorang. Jadi aku pikir karena itu.

Tapi ada yang aneh karena biasanya jadwal menstruasiku maju sekitar 3-5 hari dan aku sedikit demi sedikit melewati hari itu. Sebelumnya pernah ge-er juga, tapi terus tiba-tiba menstruasi itu datang. Jadi nggak mau pede lagi, dan nggak mau tes sampai hari H. Bulan lalu, aku jadwal mens di 2 Januari 2019. Hari itu sudah 1 Februari 2019. Nggak tahan lagi buat nggak ngambil tes. Bangun tidur antara yakin dan nggak, tapi lebih banyak yakinnya, untuk ambil tes (yang sudah aku beli tanpa sepengetahuan Damar, karena nggak pengen dia kecewa).

Aku bangun pagi, ke kamar mandi, ambil tes, sembunyiin dan berangkat sholat.

Di tengah sholat aku berdoa untuk diberikan yang terbaik, komat kamit dan bohong kalau aku bilang aku khusu’ saat itu hahaha. Aku kembali ke kamar mandi, tarik nafas panjang, siap menerima apapun hasilnya.

Dan ternyata… ada sedikit garis kedua yang muncul super samar. Bingung. Gak yakin. Kubaca lagi instruksinya dan katanya saat garis kedua muncul artinya memang hamil.

Oke.. masih nggak yakin.. belum seneng. Cek Damar di kamar, masih pules, aku memutuskan untuk jalan ke drug store paling deket untuk beli Clear Blue test yang ada hitungan berapa lama kehamilan karena kesannya lebih canggih hehe padahal harga gak jauh beda.

Hujan-hujan pagi-pagi jalan sendiri sambil deg-degan dzikir berdoa yang terbaik di jalan. Sampai rumah buru-buru pipis lagi.. Sembunyiin, ditinggal.. cek-cek Damar di kamar masih tidur pules juga. 5 menit.. balik.. this is it.. Bismillahirrohmanirrohim.

Masha Allah, sujud syukur, pengen nangis, campur aduk rasanya, tapi mau santai aja karena belum dicek jadi takut salah.

Langsung mikir, gimana baiknya ngomong sama Damar. Nggak sabar bangunin. See the reaction and how I told him in the video 🙂 Bukan roman-roman terharu kayak Hamish gitu kok hehe

…………….>>Flashback<<………………

Setelah 3 bulan mencoba, aku mulai panik ngelihat orang-orang yang begitu menikah langsung hamil. Bertanya-tanya ada apa ya kira-kira? Haruskah tes dan lain lain? Karena memang selama ini kami belum pernah tes apa-apa.

Sampai di suatu hari terjadi sebuah AHA moment.. Aku ingat wawancara Nola AB THREE yang aku tonton beberapa tahun lalu, dia cerita pengalamannya dia yang susah punya anak. Sampai akhirnya setelah 2 tahun ditemukan bahwa dia punya kelainan thyroid yang dimana thyroid itu sangat berperan dalam pembentukan hormon dan berperan penting dalam kesuburan/kehamilan. Nah, kebetulan keponakan aku punya kelainan thyroid dari lahir, thyroid levelnya lebih rendah dari normal, pun Bapakku baru-baru ini didiagnosa dengan hal yang sama.

Itu jalan Allah….. Allah memberi petunjuk di tempat yang tidak diduga-duga..

Aku pun inisiatif untuk ke dokter, ambil darah untuk cek thyroid level ini. Hasilnya memang dibawah normal sedikit, tapi tidak membahayakan, ujar dokter. Dokter memastikan bahwa itu nggak apa-apa. Tapi aku nggak yakin, sampai aku bilang bahwa aku pengen hamil dan aku pernah baca bahwa thyroid sangat mempengaruhi itu. Secara instan dia bilang ‘THEN YOU NEED A MEDICINE”. Jeng jeng.. angin dari surga rasanya.. Keputusan yang tepat untuk mengikuti apa kata hati.

Jadi obat dari thyroid itu mudah, istilahnya kaya obat penambah darah gitu kalau kekurangan darah. Namun dosisnya tergantung tingkat kekurang thyroid itu. Aku diberi tingkatan terendah (0.25 micro gram).

Long story short, setelah aku minum obat thyroid ini (harus dengan resep dokter), aku hamil.. Masha Allah..

THIS PREGNANCY SO FAR
Sekarang, I’m feeling good! Sudah masuk trimester 2, sekitar 16 weeks.  Baby bump hanya menampakkan wujudnya di dalam baju. Kalau sudah pakai baju nggak kaya orang hamil hehe Baby-nya sekarang seukuran dengan orange. Kita sudah 3x USG, yang 2 pertama di bulan 8 dan 10 waktu di Belanda dan yang ke 3, di Bali kemarin. Alhamdulillah everything is okay.  We feel so blessed! Minta doanya yaaa semoga selalu sehat dan menyenangkan hamilnya juga babynya.

Di 3 bulan pertama, rasanya mual-mual pusing.. Nggak berenergi ngapa-ngapain, kecuali kerja karena wajib. Dan di kantor juga nggak bisa share sama siapa-siapa kecuali managerku. Jadi muka pucat, badan lemas dan lesu tanpa alasan hehe. Terus nggak bisa banget sama bau-bauan, sekarang sudah mending. Di awal kemarin bener-bener nggak selera makan, apalagi masak. Bau bawang ditumis aja hadeuuuhh.. Maunya geletak aja di kamar nggak ngapa-ngapain. Sejujurnya itulah alasan kenapa nggak muncul-muncul 🙁 Karena sebenarnya yang pindahan itu yang banyak kerja adalah Damar. I am so blessed to have such understanding and supporting husband like him. Alhamdulillahhhhhh

Dan menurut aku emang Allah memberi di waktu yang tepat, sekarang dengan aku kerja untuk diri sendiri, aku bisa mengatur waktu juga untuk lebih rileks dan istirahat cukup. Percayalah, tidur siang adalah sebuah hal yang mewah.

HOW WE TOLD

Kita bilang orang tua kita berdua setelah USG di 8 weeks lewat facetime. Setelah itu sedikit-sedikit ke kakak, adik, teman dan kolega terdekat. Paling epic emang ngeliat ekspresi mereka yang juga exciting untuk kita 🙂 We got a lot of hugs and congrats. 

NEXT STEPS
Minta doanya terus untuk bayi dan kehamilan yang sehat, untuk kami juga supaya selalu sehat menjaga kehamilan ini. Sekarang sudah tahu gendernya apa, guess what it is? 

Tapi belum terlalu yakin dan akan lebih yakin lagi setelah 20 weeks. Apapun gendernya nggak akan bikin kami less happy dari kita sekarang. I”ll share my pregnancy book list and my birth plan in coming weeks 🙂

Love you and thank you for all the loves.

 

Dreams Milestone

THE TICKET IS ONE WAY – packing dan kesan pertama ada di Bali, Indonesia

14th April 2019 - 11 min read

Hi semuanyaaaa.. Aku kembali untuk menyapa siapapun yang membaca blog ini atau menonton videoku. Terima kasih banyak. Dan terima kasih banyak banget perhatiannya di Instagram, youtube, yang nyariin aku. Maafkan yahh. Life happened, and there are just many things I had to tackle at the same time. Beberapa di antaranya adalah PINDAHAN.

Yes, buat yang sebagian udah tau aku bermimpi tinggal di Bali sudah dari beberapa tahun lalu karena banyak hal, alam dan pantai adalah beberapa alasan besar di antaranya. Plus aku selalu ingin kembali ke negaraku tercinta, dekat kembali dengan keluarga. Dan alhamdulillah kita diberi kemudahan untuk membuat keputusan itu tahun lalu dan berpindah bulan Maret kemarin.

Jadi, aku dan Damar sudah mulai bersibuk-sibuk ria packing dari bulan Januari. Karena kita ingin mengkapalkan beberapa boxes karena nggak mungkin dibawa di pesawat, plus mengkapalkan barang itu akan menempuh wakt 3 bulan. Barang-barang seperti elektronik, gitar damar, dan alat-alat useful yang kita tau di Indonesia sudah barang tentu sangat mahal. Tapi jangan bayangin kita packing setiap hari ya karena barang kita juga gak sebanyak itu. Kita started slowly seperti ini kira-kira

  1. Pilah dan pilih barang, yang ternyata banyak juga kalau dipikir-pikir ada aja yang nggak dipakai dan bisa dijual. Padahal sudah merasa mempunyai yang paling esensial. Ternyata aku pun juga manusia. Hehe tapi aku emang tahu aku nggak minimalis yang gimana sih, tapi berusaha lebih sadar yang kemudian berujung ke barang yang seadanya. Tapi walaupun sudah berusaha dengan sadar, tetep aja ada yang bisa dijual dan didonasi. Nah gimana kalau nggak sadar?
  2. Dimulai dari kategori-kategori, aku mulai dengan lemari baju.. mulai memasukkan yang aku nggak wajib pakai untuk kemudian di pack bersamaan dengan box yang lain karena juga berfungsi sebagai ‘bubble wrap‘ hehe. Kemudian lanjut dengan peralatan elektronik yang bisa kiranya tidak dipakai hingga beberapa bulan ke depan (mesin kopi, mixer, blender, hiks 🙁 ) tapi nggak apa-apa. Bisa hidup kok tanpa itu semuaaa walaupun serasa kurang. Dan lain-lain.. Eh tapi 1 kesedihan hari ini adalah yoga mat ku yang masih ada di kapal 🙁 kesedihan yang mendalam.
  3. Donasi dan jual-jual, barang-barang yang sekiranya tidak esensial untuk dibawa dan masih bagus kita donasikan jika kita tahu ada tempat membutuhkan untuk menyalurkannya. Yang lainnya sih dijual-jual saja seperti biasa di martkplaats.nl. Salah satu barang yang paling pertama aku jual adalah sepedaku. Dan senangnya aku bisa menjual ini ke temen kantor satu team. I’m sure it’ll be in good hands 🙂
  4. Beres-beres bersih-bersih dapur, permasalahan makanan ini beda cerita walaupun bisa masuk ke bagidan ‘dimulai dari kategori-kategori’. Namun makanan ini terbagi menjadi yang kering dan fresh. Yang kering, aku berusaha makanin dan ngehabisin kecuali bumbu-bumbu dapur. Toh akan ada yang pakai penyewa rumah kita nantinya.. Dan orang Indonesia juga jadi nggak akan kebuang. Kemudian yang basah-basah seperti yang di freezer harus banget dikonsumsi karena sayang walaupun maksimal bisa dimakan oleh penyewa rumah kita nantinya. Tapi sayang aja, toh juga menghemat jadi nggak harus belanja baru 🙂 Ternyata kalau fokusnya ngehabisin apa yang ada di kulkas, ya bisa jadi kreatif.
  5. Packing dan mengirim barang, di masa-masa ini sekitar Maret pertengahan aku lagi tepar banget nggak enak badan. Damar dengan angel-nya ngerjain semuanya sendiri. Things that I am grateful for, so blessed. Dan dia nggak ngeluh sama sekali. Anyhoo, kita nyari ekspedisinya aja udah lama sendiri karena cek-cek harga liat review tanya-tanya dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan http://www.holindo.nl/ Mudah-mudahan sampai semua tepat waktu dan tidak kekurangan suatu apapun aamiin.

Karena kita masih kerja full time dan juga ada agenda-agenda lain, plus aku lagi nggak fit banget 3 bulan belakangan, maka packing ini inginnya memang sedikit-sedikit, karena yang sedikit-sedikit akan lebih efisien untuk waktu menjual, berpikir, mendonasi dll. Untuk meminimalisir barang terbuang percuma aamiin.

Pesawat kemarin kita naik Singapore Airlines, THE TICKET IS ONE WAY. WOW, cannot I believe we get to this point and with our own choice. Kita berangkat tanggal 26 Maret pagi naik bus malam yang langsung ke Schiphol Airport, kami hampir nggak pernah pergi naik taxi kalau memang nggak perlu misalnya kalau pergi sama mama bapak. Karena selain mahal banget, juga yah kalau naik bus bisa bareng dengan 50 orang lainnya. Lancar semuanya. Masih belum terlalu terasa sedih atau gimana, I only cried once sebelumnya. Lebih fokus ke mau naik pesawatnya daripada ninggalin Amsterdam-nya mungkin karena aku tahu kita akan kesana lagi. Aamiin.

Begitu nyampe di pesawat, aku ngebukain kartu-kartu dari sahabat dan kolega yang memang aku sengajain mau bukanya di pesawat aja. Duar. Melerrrr, nangis sesenggukan 🙁 I felt so loved and I am just forever grateful to have met everyone I met. There are always reasons why we encounter someone in our life.

Perjalanan lancar semua alhamdulillah, nyaman, bisa tidur enak.. Menyenangkan.. Excited to be home! Di jalan pastinya nonton film karena aku nggak pernah ke bioskop dan jarang nonton-nonton film haha Jadi bisa nonton A star is born. Terus nangis lagi 🙁

Besokannya jam 9.30 pagi waktu Bali, kami sampai di Bandara Ngurah Rai. Still felt surreal. Nggak percaya kami sudah menapakkan kaki di pulai dewata. First thing first adalahhhhh Bubur Ayam alias Sabu. Kerasa hangatnya nggak cuma dari matahari tapi juga dari orang-orangnya.. Disambut dengan sajen dimana, ahhh welcome to Bali, Indonesia.

Sekarang sudah sekitar 20 hari kita di Bali. Still happy walaupun istilahnya kita memulai lagi dari 0, nggak punya barang-barang harus beli, masih tinggal di kosan dll. Ini kesan-kesan ku selama tinggal di sini, nggak cuma Bali tapi Indonesia pada umumnya.

  1. Orang-orangnya ramah, peduli tapi nggak terlalu peduli. Maksudku, mereka tetap orang Indonesia yang peduli dengan sesama, juga ramah tapi mereka nggak beda-bedakan orang. Walaupun mereka ada kasta-kasta ya, tapi aku juga nggak tau kenapa mereka tidak membedakan siapapun di kehidupan sehari-hari. Apa karena sudah terbiasa dengan orang luar (read: bule) jadi terbawa bahwa semua orang sama dan tidak dilihat dari cara berpakaian dll? Bisa pakai sandal jepit kemana aja. So far siihh dan semoga akan selalu seperti ini. Aku sempet takut akan dipandang gimana karena bukan orang lokal, tapi sama semuanya mereka semua baik. Ohya beberapa hari yang lalu kami diserempet motor dan motornya jatuh. Aku udah panik aja terus ngeliat semua orang berhenti untuk bantuin pengendara motornya, untuk bantuin kami juga bantu benerin spion yang lepas. Ahh you won’t get it in NL. Just so different.. Yang akan terjadi adalah mereka telpon 112 (polisi) dan udah gitu aja ditinggal. Nggak terlalu ada tanggung jawab moral untuk membantu orang di sekitarnya mungkin juga karena rule yahh. Jadi memang kita semua itu unik.
  2. Privilege go massage dan go go yang lainnya. Sangat nyamannn, tapi kalau nggak hati-hati bisa mager dan males haha. Tapi go massage is the best! Apalagi massage di Belanda itu mahal banget. 5x lipat harga di Indonesia. Oya, poinku di atas tadi dibenerkan oleh ibu Made, langganan go massage-ku.
  3. Banyak hiburan murah, yaitu PANTAI! Whoop whoopppp! Pengen nyobain eventually semua pantai. Kemarin baru nyobain 3 pantai sajah. Tapi ini tergantung gaya hidup dan pengen hidup yang kaya gimana ya. Kalau aku sih orangnya santai banget, kalau gak necessary dan gak perlu, males sih ke beach club-beach club gitu. Sayang.. mending buat beli kulkas atau rumah ;D
  4. Dinamis, susah untuk memiliki rutinitas. Banyak kemungkinan yang terjadi, seperti macet, kecelakaan di jalan, emosi naik turun,  yang bisa terjadi. Mungkin salah satu alasan kenapa toko juga tutup sampai malam, karena siang susah banget diprediksi dan banyak habis di jalan. Ini adalah salah satu hal yang aku harus banget adaptasi kembali.
  5. Food is everywhere.  Tapi kalau dipikir-pikir, ya gak semurah itu juga. Cooking is always the cheapest option.
  6. Pengurangan plastik dimana-mana di Bali apalagi dengan PEMDA yang tidak memperbolehkan supermarket untuk menggunakan plastik sampah sekali pakai lagi. Seneng banget tiap kemana-kemana kaya Alfamarkt, toko buku dll selalu ditanya mau pakai plastik atau tidak? Walaupun kalau toko-toko kecil, tetep harus sigap yah. Tapi seneng bahwa kesadaran itu sudah ada. Bayangkan berapa plastik yang dikurangi karena selalu diberi opsi kaya gitu.
  7. Surganya buah tropikal, please dont take it for granted. Salak, duku, nangka, kelengkeng, rambutan, sirsak, they are all sooooo expensive in Netherlands. So so so so expensive belum lagi emisi karbonnya. Disini, it’s good, it’s cheap and you can find it anywhere. Tapi aku harus belajar milih buah nih, kemarin beli asal terus pada busuk 🙁 Kasih tips donggg..

Gitu deh kira-kira, akan banyak lagi ke depannya pengalaman yang Damar dan aku lewati karena kita masih dalam proses settling in. Kemarin akhirnya beli kompor haha horay! Nanti aku akan cerita-cerita sedikit yah.. One thing for sure, hidup di kosan dengan cuma punya 3 pasang alat makan dan pompa untuk ngambil minum dari galon is goodd and it’s enough hehe. Ini sih baru minimalis yang sebener-benernya…

See you soon!

Dreams Hidup Minimalis Life Self growth

Time Management

5th August 2018 - 9 min read

Semakin kesini semakin nyadar bahwa waktu berjalan dengan cepat dan rasanya tuh selalu ngerasa nggak cukup. Ngerasa juga nggak sih kalian? And then you look back and then you question where does time fly, plus checked in on what you have done and you can’t really name what’s worth mentioning? Untuk orang-orang yang banyak kegiatan, biasanya seperti kehabisan waktu dan waktu 24 jam nggak cukup. Yang sudah plan aja masih ngerasa nggak cukup apalagi saat nggak diplan sama sekali. Memang sih sebaik-baiknya ngeplan waktu juga pasti ada aja kan yang tiba-tiba terjadi, tapi seenggaknya dengan sadar akan konsep waktu dan kegunaannya kita jadi bisa less procrastinate.

Pertanyaannya apakah kita sudah nge-plan dengan proper atau bahkan sudahkah nge-plan at all? Let’s reflect dan check out what we have done so far. 16 jam (24 jam-minus jam tidur) itu banyak lho sebenernya. Dan kita bisa fit ini semua yang kita mau lakukan, asal dimanage dengan baik.

Kalau dipikir-pikir step ini juga sangat berelasi dengan konsep hidup minimalis. Step ini akan mengharuskan kita untuk ngelist apa aja yang sebenernya harus difokuskan, instead of  letting the time flows dan hanya ngelakuin tergantung kemana waktu dan challenge membawa. Jadi garis besarnya adalah it’s all about simplifying your life, membuat space untuk hal-hal yang substantial yang harus dilakukan. Untuk fokus ke hal-hal penting di dalam kehidupan kita.

First thing first, untuk kita membuat waktu lebih di dalam keseharian kita, pertama-tama kita harus melihat kemana waktu kita pergi. Kemudian kita bisa kontrol dan meluangkan waktu untuk make things happen. Kuncinya adalah take time to manage your time. Duduk dan organize all in paper or in your digital note (Free Ideal weekly plan yang bisa didownload 🙂)

Caution: Poin-poin dibawah ini hanya sekedar guideline dan beberapa cara yang mungkin nggak sempurna. At the end of the day, semua terserah kalian dan see what works for you! Semoga bermanfaat!

Aku pengen share tips dan tricks yang bisa bikin aku gunain waktu dengan lebih baik. Bukan berarti aku nggak pernah procrastinate, pernah juga, sering bahkan apalagi pas pulang kantor abis makan malem pengennya ngebo aja nontonin youtube sampe ketiduran. But yeah, I do realize, managing time well will clear up more space for side hustle, people, hobbies, study interest and rests, no time for ‘ngebo’.. You’ll fit in more things. 

1. Words vomit

Biasanya aku ngelakuin ini pagi-pagi bangun tidur setelah exercise/yoga dan juga sepanjang hari jika perlu. Kira-kira alokasi waktu 5-10 menit di pagi hari. Words vomit itu menumpahkan semua yang ada di kepala, soal apapun. Apa yang kamu pikirkan saat itu, to do list, gratitude, literally everything. Dengan mengeluarkan apa yang ada di kepala, kita jadi bisa lebih fokus dan efisien dalam mengerjakan sesuatu karena kita nggak perlu takut lupa atau terus mengingat-ngingat sesuatu. Udah diinget-inget bikin nggak fokus, akhirnya lupa juga karena kita semua manusia. Dengan numpahin semua, kepala kita jadi ada space extra untuk ngerjain task secara lebih efektif dan produktif.

2. Make a realistic to do list

To do list adalah senjata saat kita melakukannya dengan benar. Ada masanya dulu aku tulis semuanya termasuk task-task yang nggak terlalu penting hanya karena aku suka sekali rasanya scratch the list karena tasknya sudah accomplished. 

Break down secara besar kemudian dikecilkan. Mulai dari goal besar di bulan itu, kemudian di perkecil ke Ideal weekly plan. Nah ada rule of 3 yang juga bisa dijadikan sebagai acuan. Intinya sih daripada kewalahan dengan tugas yang terlalu banyak di checklist, kamu bisa memilih 3 hal yang paling penting yang ingin dicapai. Ini membuat kita memegang kendali lebih. Tapi 3 tasks ini harus non negotiable, sedang yang lain yang tidak tertulis bisa lebih negotiable. What is something you can let go of or save later?

3. Allocate time

Di dalem to-do list, alokasikan waktu secara spesifik. Seperti 1 jam, 2 jam dst. Kalau perlu, nyalain alarm untuk ini. Pernah sadar kalau biasanya kita wander around nggak? tiba-tiba buka social media, scrolling like there is no tomorrow. Tiba-tiba 5, 10, 15 menit ilang gitu aja.. We lose track on social media. Nah untuk mengurangi kemungkinan itu, coba alokasikan waktu di setiap aktivitas yang pengen dikerjakan di hari itu. Kalau kita alokasikan waktu dengan proper dan realistis, pasti a task will be done accordingly. 

Distraction itu manusiawi pasti terjadi pada siapapun. Don’t fight it, but accept and moderate it. Welcome procrastination and set time for it. Mungkin supaya nggak ganggu, handphone bisa diset airplane mode, atau block social media di komputer yang sering dibuka.. Kadang saking udah jadi habit, jadi unconcious saat melakukannya. Kalau udah gini mungkin waktunya social media detox 🙂

Ada juga Pomodoro techniqueThe Pomodoro Technique adalah filosofi manajemen waktu yang bertujuan untuk memberikan fokus maksimum dan balance dengan fresh mind, sehingga memungkinkan mereka untuk menyelesaikan proyek lebih cepat dengan kelelahan mental yang lebih sedikit. Prosesnya sederhana banget, untuk setiap proyek sepanjang hari, anggarkan waktu untuk bekerja atau mengerjakan task, kemudian  beristirahatlah secara berkala. Jadi contohnya, setup 25 menit untuk kerja, kemudian 5 menit break. Check out for more detailed information in here

4. Dengan kata-kata verb atau actionable

Gunakan action words di to-do list biar otak jadi bisa memvisualisasi untuk encourage kita bergerak melakukannya. Contohnya saat harus belajar, tulis pagesnya, chapternya dan buat sespesifik mungkin.

5. Focus and don’t constantly switch to another tasks

6. Staple activities

Multitasking itu sebenernya kurang baik, tapi yang ini menjadi pengecualian. Kita juga pengen baca buku, tapi pengalamanku pribadi aku ngerasa bersalah karena membaca buku juga membutuhkan waktu sedangkan we are just still. Jadi kaya diem aja nggak ngapa-ngapain padahal baca. Supaya tetep bisa nambah ilmu, cari sesuatu aktifitas yang mindless atau nggak perlu mikir. Kemudian bisa denger podcast atau audible atau blinkist. Ketiganya adalah cerita yang berbentuk audio.

Podcast itu free, bisa ditemukan di aplikasi-aplikasi handphone kalian. Di podcast siapapun bisa bikin channel masing-masing kemudian dishare di apps dan siapapun juga yang punya aplikasi ini bisa mendengarkan. Karena siapapun bisa bikin, aku biasanya ke podcast saat aku sudah tau pasti jelas bahwa seseorang yang aku suka memang ada di podcast atau ada subjek tertentu yang kamu pengen denger. Most of the times I had a good experience with this. Tapi karena bentuknya podcast, jadi mirip-mirip youtube atau radio gitu, topik kontennya ada tapi tapi tidak terlalu terstruktur dan suka-suka yang bikin.

Audible ini punyanya amazon yang gratis di bulan pertama tapi berbayar 15 euro/ bulan di bulan-bulan selanjutnya. Menurut aku, it’s super worthwhile. Mengajak untuk selalu belajar akan sesuatu yang baru tiap bulannya. Karena as I said, baca buku biasanya ada aja excusenya, yang ngantuk lah, yang wasting time lah, etc. Dengan audible, kita bisa ngedengerin kapan aja kita pengen, saat lagi nyetir, di public transport, lagi masak dll. A little suggestion: use this apps to listen to something that is relatively easy to follow. Jangan buku-buku kaya sapiens, the theory of earth or things like that. Because the chances are, you have to sit and listen to it focusedly anyway and then you better read a book 🙂

Blinkist ini adalah apps yang merangkum key lessons dari  buku-buku non fiksi selama 15 menit atau kurang. Jadi dalam 15 menit, kita belajar sesuatu yang baru. Aku sendiri belum pernah nyoba apps yang ini, tapi reviewnya bagus banget. Again, ini preferensi yaaaa. Jadi kalau emang nggak tertarik, yaudah nggak usah. Sama seperti Audible, Blinkist ini juga menawarkan free first month trial.

Selain itu bisa juga save tontonan untuk ditonton saat kita lagi digym. Cari sesuatu yang bisa diincorporate dengan sesuatu yang mindless atau nggak perlu mikir. Niscaya, waktumu akan lebih efektif.

 

If we don’t schedule things, things will not happen. Take your time to sit down, relax and schedule your day, week, month, or year 😀

Dreams Self growth

Menata dan menguasai Pola Pikir – Mastering your mindset

14th June 2018 - 7 min read

Menata pola pikir adalah salah satu hal yang penting banget dilakukan untuk menggapai mimpi. It begins from a correct mindset. Mimpi saya masih jauh, tapi di perjalanannya, saya beranggapan bahwa semua yang terjadi pada saya selama ini adalah kesuksesan-kesuksesan kecil  yang harus saya syukuri.  Kesuksesan-kesuksesan kecil yang nantinya akan berakumulasi menjadi kesuksesan besar.

Begitu saya kuliah dan ditempa dengan kerasnya hidup (padahal juga nggak keras-keras amat sih dibandingin orang-orang lain, tapi cukuplah untuk saya belajar karena saya lumayan self-reflective orangnyaa :P), saya banyak sekali belajar soal kemandirian, rasa peduli untuk sesama, dan belajar bahwa hidup itu nggak stagnankarena saat itu saya ngerasa nggak akan ada yang bisa menyelamatkan saya dari kehidupan selain saya sendiri. Dari situlah saya mulai berani untuk bermimpi, dari yang paling standard seperti lulus sekolah tepat waktu di Belanda, sampai dengan menikah dengan partner yang cocok sekali dengan saya, hingga ke memiliki bisnis sendiri. Saya yakin itu bukan hanya sebuah kebetulan atau faktor keberuntungan, banyak hal di dalamnya yang terjadi termasuk berpikir positif dan memiliki mindset yang yang berkembang seiring berjalannya waktu.

Dari kemandirian itu lah saya belajar bahwa saya harus bisa mengubah pemikiran dari “I can’t” menjadi “I can“. Fake it till I feel it and always say yes to new challenge. 

What consumes your mind, control your life dan saya yakini sekali itu itu.  Apa yang kita yakini pasti akan dapat kita capai, begitu pula sebalikanya.

Dibawah ini saya rangkum dari beberapa sources, juga dari pengalaman saya sendiri, bahwa in order to create a dream life, you have to set a good mindset. 

  1. Self Love

Ini adalah topik yang saya suka banget dan selalu saya coba untuk ingat dan fokuskan. Karena rasa-rasanya mimpi akan sulit tercapai bahkan sulit untuk bermimpi saat kita nggak sayang dan support diri kita sendiri. Ini adalah hal nomer satu yang seharusnya dilakukan, instead of bergantung terhadap cinta dan support dari orang lain. Learn to be your own bestfriend! Karena bahwasanya menggapai mimpi itu akan melewati banyak tantangan dan halangan, demotivated period, tapi saat kita mencintai dan take a good care of ourselves, kita akan kembali ke track yang seharusnya. Selain itu, di perjalanannya, pasti akan ada perasaan tergoda (at least pengalaman pribadi) dengan kehidupan orang lain yang tampak indah di sosial media. Dengan self-love, perasaan itu akan lebih cepat menghilang karena kita mampu kembali bersyukur dengan apa yang kita punya, bahwa kita tidak kurang spesial dari orang-orang lain. Everybody has their own way and we do too. Believe in yourself!

     2. Your life is your responsibility

Ada formula yang bisa bikin kita lebih mengontrol hidup kita untuk menjadi sukses.

E+R=O atau Event + Response = Outcome

Maksudnya adalah kita itu punya pilihan bagaimana kita merespon kejadian dalam hidup kita. Jika kita ingin mengubah hasil, maka kita juga harus mengubah cara kita menanggapi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. Never blame to others and don’t play victim. Memang terkadang kita pasti ngerasa ada faktor eksternal yang kita nggak bisa kontrol, seperti situasi dan orang lain, tapi kita bisa kontrol gimana cara kita menanggapinya. Learn that you have control of your life and your emotion. Walk conciously in this life because before you know it, it will control you. Daripada fokus ke hal yang kita nggak bisa kontrol, kenapa nggak fokus ke hal yang bisa kita kontrol? 🙂 You have that power!

    3. Have growth mindset (growth mindset vs fixed mindset)

Ada yang bilang, manusia terbagi menjadi dua. Ada yang punya growth mindset dan ada yang fixed mindset. Percaya bahwa kita bisa grow. Ada paham yang bilang bahwa people don’t change padahal sebenernya everthing is possible when we let it. Okay we might not ‘change’, but we grow into a better person. Dengan growth mindset, kita bisa push diri kita dan kita nggak bisa menyalahkan keadaan dimana atau bagaimana kita dibesarkan. Instead, kita harus fokus untuk ke hal-hal yang bisa membuat diri kita lebih baik dari kemarin. Always have goals for your self! 

    4. Positive perspective on your journey

Business coach Todd Herman bilang dia bisa langsung menilai mana orang yang akan sukses dan mana yang nggak hanya dengan interview dan melihat cara mereka menyikapi sesuatu. Dia melihat dari perspektif mereka dalam perjalanan yang mereka lalui. Bayangin ada 2 orang di stage yang sama dalam hidupnya:

  • Orang yang melihat jauh kemana mereka harus pergi: Still have so much things to do, so much left to go. Biasanya jadi discouraged karena yang terlihat adalah seberapa jauh mereka masih harus melangkah.
  • Ada orang yang bersyukur dan positif dengan apa yang mereka capai, selalu inspired dengan sekitar dan apa yang sudah dicapai.

Kira-kira yang mana yang bakal sukses? Yes, yang kedua. Karena mereka ingat dan appreciate apa yang sudah diaccomplished, walaupun perjalanan masih panjang tapi orang itu nggak akan fokus ke negatifnya, susahnya dan tantangannya. They have that positive attitude and mindset towards their journey which will attract more positivity. Dan orang yang satunya sudah caught up dengan mindset yang ‘negatif’, bisa nggak ya, kayaknya susah banget dan lain lain akan nge-attract strugglenya dan perjalanan jadi terlihat lebih susah dari sebenernya.

     5. Cultivate an endurance mindset

Sabar dan gigih. Sabar  karena perjalanan kita nggak akan mudah dan it’s gonna take time, enjoy the process and dont take shortcut. Gigih (perseverance) karena kita nggak akan pernah tau kapan breakthrough itu akan terjadi, kapan our next step akan menghasilkan sesuatu yang sukses, you just have to keep trying no matter what. Edison nyobain bikin lampu lebih dari 100x sampe akhirnya sukses, bayangin kalau dia berhenti di percobaan 90x, mungkin lampu akan datang terlambat ke dunia ini atau bahkan nggak akan ada? 😛 Failure hanya terjadi saat kita fail dan give up (writing while reminding myself that). If you keep trying and try to always find ways to your goals, eventually you’re gonna make it or you’re gonna get somewhere!!!!!! (again, reminding myself).

Have that mentality is not easy, tapi bukan nggak mungkin lho. Kita harus percaya ke mindset itu dan jadikan sebagai habit untuk berpikir ke arah itu. Just keep going in order to get stronger and stronger.

WE ARE ALL GONNA GET THERE!!!!!

No matter how hard it gets, we will make it!

But maybe first, determine what your dreams and goals are 🙂

Dreams Europe Hidup di Belanda Netherlands

Skydiving in Texel Netherlands

14th August 2016 - 14 min read

The day had finally come!! Skydiving has always been in my bucket list for so long and this year I promised myself to get it over with!

It surely is a scary thing, yet exciting just come to think about it. Damar and I were already dating when I saw this discount offer in Groupon.nl. I had been eyeing Groupon for discount in this particular thing and one day I came across “Paracentrum Texel 100eur korting”. The deal was buying the voucher for 20eur, and we got 100eur discount in the original price. The original price for Experience Package (including documentary) was 344eur. Thus total amount would be 264eur for this whole package.

I proposed this idea to Damar and he immediately agreed. All we needed to do was making the reservation. As much as I was excited, I kept on postponing it until at the moment I realized that I just had got to call, reserve and wait to the day. Honestly, we bought the ticket on March and made the reservation last week LOL. We thought to make the reservation for week after so we did not have to wait that long and did not have time to get nervous. WRONG! I was still nervous!

In fact, I was already nervous on Friday on my way from work to the office, my head was dizzy and my stomach was tickled. It was a mixed feeling between excitement and anxiety, predominantly the anxiety. That Friday night we spent resting and chilling at home, as the next day we had to go to Texel very early in the morning to assure that we would get our initial time slot (09.00-11.30). The next day, of course, we overslept for an hour 😛 but we knew we would still be on time. That’s the perks of giving buffer time!

We woke up at 6.30, got ready, had some leftover Rendang fried rice from last night and left the house at 7.10 to catch the bus at 7.23. First, going to Zaandam (25 mins), then take the train to Den Helder from Zaandam (60 minutes). Apparently, Damar and I arrived earlier so we had times to buy ourselves lunch and drinks for on the way. As the Texel Airport was in the middle of nowhere, we anticipated that it would be rather difficult to find what we want, even if there is, it would be pricey. We took  bus number 33 and arrived in the harbor. The ferry is called TESO and it had everything inside i.e proper cafeteria and toilet.

The journey took 20 mins, it allowed us to enjoy ourselves in the ferry. That morning was very beautiful and the sky looked blue. Seemed like a good sign! We were hoping that it’d stay that way the whole day..

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.32

This is how the Ferry looks from the inside, quite spacious huh

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.31 (1)

Could be an idea to feed the seagul with some breads, they will come over around you. Look at that blue sky!

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.31

Still fresh and full of energy! Who know what was inside my head.

Once we arrived in Texel harbor, we were already being waited by Texel Hopper bus, the only bus that would take us the the airport. It was 3 euro/person and the reservation needed to be made online at least an hour before the schedule of departure. The list of which can be checked online. It was a mini bus and it could accommodate like only 8-10 people. I started getting anxious and could not stop holding Damar’s hand. Actually a moment before that I realized my gum, where the stitch made after wisdom removal surgery 2 weeks ago, felt weird, apparently it got bigger. But hell, the nerve was dominating my feeling.

We went directly to the reception and told them we made the reservation. Unfortunately there was one thing we did not consider that they might ask for the Groupon voucher. And yes they did. Actually it should have not been a problem but it was because at that very moment, Groupon website decided to be down! The timing could not be more right *eyeroll* I could not connect and find my voucher anywhere in my mail. We struggled for one hour, called people at home, until Damar’s lil bro at home could find the voucher in my laptop somehow. Fuhhhh!

But by the time we were ready, the skydivers were on standby due to the low cloud and we had to wait until 3 pm. We killed the time by having coffee in the Hotel Texel Restaurant next to the airport or what divers call ‘dropzone’. We sipped the drinks, read, moved here, talked superficially, moved there, talk deeply, ate, took a nap, then we got so boreeeeeeeed and needed to move so we went outside.

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.30 (1)

Still okay.. Reading is good

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.29

The look of my ‘getting bigger’ cheek. It started getting a bit hurt.

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.29 (1)

Coffee and reading. GOOD! for the first 2 hours.

It was such a good idea to (buy) bring some snacks for the wait. At 15.30, the sky looked not so gloomy anymore and the crew started to call out people’s name meaning they started to send skydivers up again. Oh my God, after the rest, my heart was jumping again. The first plane went up and 20 minutes later, we saw black dots came down from the sky, 1,2,3,4,5,6,7,8,9, people with parachute getting closer to the ground and eventually arrived safely. My head was full with excitement!!!

After 5 rounds, they put on standby again as the cloud was not as clear, but forecasted the condition would be better at 18.00. So we waited again. By then, I was laying my back down the bean bag, no energy and plus my gum was painful. I laid down in the big hangar where the divers practiced and folded their used parachute. I was watching them and trying to investigate what they did 😛 One thing I learnt, those people seems very free-spirited and happy. Looks like they enjoyed what they are doing and they get paid for their hobby.

The clock turned to 19.00, Damar came back from checking our name in the board and he said it got closer to our turn. Okay, I was a bit shaky but EXCITED!!!! 5 minutes 10 minutes, I heard my somebody called my anme and asked to put our stuff in the locker. Here it is…. (could not feel the pain of my gum anymore, as my mind was distracted).

We put on our astronaut’s clothes with the gears and was explained what we could expect up there. We had to wait until the plane picked us up while in the mean time we met our tandem. My tandem was Alexandre, we did not have so much chances to chat. I was so worried because I did not know the guy so well, who knows what could happen righttt?. I think it’s a good thing to get to know your tandem to build the trust. Obviously, I did not get it in the beginning. All I did was surrender.

However at the end, I discovered that he’s nice and quite cynically funny whom the joke I could get. We went on the plane and was videographed the entire time, guessing my fear face could not be covered anymore lol. Damar and I had our own videographer, we were practically followed by them.

On the airplaine, we were instructed by our own tandem what to do. The good thing about doing the jump with tandem is that we do not have to worry about opening the parachute and so on. We are supposed to just relax and enjoy the view. Alexandre started getting ready, he made sure I saw that he hooked the locks which connected both of us. I was apparently the first one that would be jumping. Basically, all I had to do was getting on Alexandre’s lap, leaned on him and when jumping turn my head to the left as well as pulled the legs to the back. Before we noticed, the airplane reached 9000 feet (3 km), the plane door was opened and we had to jump!

WOWWWW.. I still remember the feeling of adrenaline! Alexandre tapped my back twice and it means that it’s the time to spread my wings 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

The feeling up there was incredible, I could not really put it into words. It was very quiet, heart full of gratitude.

The freefall took about half minutes and I posed to the camera trying to make heart shape, but FAILED big time. My weight is too light to force the pressure of the wind lol. It was cold up there, and I could not see anything as we went through the white cloud. 30 seconds later, I could see the lands, and Alexandre opened his parachute. It pulled us up gently and let us hang there for minutes. Worst thing is before landing, he had to make the turn (going round) to stir and avoid all of us arrived in the drop zone at the same time. That made me dizzy badly, I promised I could vomit. So one tip: close your eyes when it happened, it reduced the feeling of vomitting. Anddd we landedd!!!!!

I was so happy! Apparently Damar was already there. Glad to see each other again! We promised to meet again on the ground, and there we were! Alhamdulillahhhh!!!!

It was totally worth the wait!!

So, what to prepare before skydiving? It is no big deal, big deal, but I did some of these before skydiving, and it helped

  • Before scheduling the day, check the weather forecast and how to go there
  • Healthy fitted body! It will certainly be unenjoyable when you are ill, and the pressure might worsen the sickness. (Dont jump with swollen cheek or stitches in your body!)
  • Tell all the family, especially parents. Their motivation and admirance will be very positive to have approaching to the day of skydiving
  • For me, prayer is one of those things that can make me calm, thus do whatever it is that makes your nerve a bit more loosen up, e.g meditation
  • Bring some snacks/food and a bottle of water (that you can refill), drinking water can help to freshen the mind. Also, like in my case, you’ll never know with the cloud condition, all those will be useful when you have to wait for the entire day
  • Documents that you will need for registration in the front desk (in my case, Groupon print out/email)
  • Wear the most comfortable clothes that you own in your wardrobe, wear sneakers that are very tights to avoid it getting lose and fall from the sky
  • Tie up your hair!! It will be very hardly windy up there, and last thing you want to do is to annoy your instructur with your long flying hair
  • Take off whatever is valuable and detachable (I removed my wedding ring for example)
  • Feed your mind with positivity
  • And last but not least, happy mind, face and SMILEEEE! After all, you will be able to scratch off your bucket list! For me, that is very motivating

 

 

 

IMG_9901

IMG_9904

IMG_9905

IMG_9906IMG_9909 IMG_9912 IMG_9917

DSC07829

DSC07839
IMG_9942 IMG_9945    DSC07878

 

Dreams Europe Iceland

Day by Day in Iceland

13th February 2016 - 15 min read

Day 1

We arrived at 14.30 pm local time Iceland and pick up the car in he airport. First time the plane landed in the airport and saw outside, I felt like in the other planet. Everywhere was white, there were no trees, and the area seemed really quite. I sat down in the plane next to 2 American people. Yes, I did not sit next to Damar nor his siblings as we checked in pretty late. Apparently, now there’s a stop over from or to the States. That explains why there are a lot of Americans in the flight. A tip also for WOW air, they do not have online check in, but you can reserve the seat online when you book the ticket. Else, you need to come early for the check in to have a nice seat as wished.

We drove to our stay in the centre of Reykjavijk. It took approximately 40-45 minutes driving. We arrived and took a rest.. I cooked dinner and we all stayed in bed until the next day.

Day 2

We checked out before 10 am and drove to the National Park in Thingevellir. In the summer of 2000, two severe earthquakes occurred in South Iceland. Though their source lay 40-50 kilometres southeast of Þingvellir, stones fell from the ravine walls and water splashed up from the rifts. The water in the Flosagjá rift, normally crystal clear, became so murky that you couldn’t see the coins lying on the bottom. The earthquakes were a result of movement of the Eurasian and North-American plate boundaries that run through Iceland. In the south, the plates inch past each other, but at Þingvellir, they break apart and the land between subsides. In here, divers can go to the plates of 2 continents at the same time. The view there was also amazing. It’s just the weather was freezing up to minus 4.

Al2basoReLYjVPXm9-0Dja29YAoRLTRPTuo76-svy0RV

Then, we continued to Geysir. Eruptions at Geysir can hurl boiling water up to 70 metres in the air. However, eruptions may be infrequent, and have in the past stopped altogether for years at a time. The explosion was every 5-8 minutes. Just wait there and you will get the moment 🙂

Ahi_zDodUDfin1zQ1K-ic-5_6t6jPneArZKDALy94L6z (1)

We had a little coffee break in Geysir, so far Geysir has the most convenient waiting/break place with huge store and cafetaria, and proper toilet. Afterwards, we continued to Gulfoss. Gulfoss means Golden Waterfall. It was really cold, the wind was killing. I felt like if I did not properly wear hiking shoes, I would have flown away by the wind.

An5dqdtbB4XH9J9xv5FdZJ7uoecPfQEEJho8fAaDbRh2

AvDFPdGMau-qMYXf_8bWRzCVc2ZTahnErjN7uBx8ALtY

We did not stay that long in Gulfoss, because of the cold. We just stayed for 15-20 mins and we came back to the car. We drove away to our next airbnb stay, the owner’s name was Magnus. He prepared some fishes at home, that’s what we ate for Dinner. Iceland is very rich with its seafood, thus we were pretty sure the salmon was something he randomly caught. We were honored! This place also has hot tub at the back of the house, Magnus said that we did not have to be careful using the water because it’s unlimited and they have plenty of water. I believe it’s because of the geothermal power that Iceland is rich with. We were enjoying the hot tub until dinner time. Feeling soooooo good! Oh btw, do not mind the smelly water, especially the hot water as it is full with sulfur. This is not drinkable, but the cold water is.

That night we saw the aurora and this is the night where I was proposed 🙂 See the story and picture here

Day 3

We moved on to the next place. We drove towards Kerid Creter Lake. It is a volcanic crater lake located in the Grimsnese area in south Iceland. Again, the wind was pretty scary for a little girl for me. The trail was a little slippery too. The timberland shoes I borrowed from a friend has a proper grip to the ground, it helped a lot to walk. Damar wore just vans and he slipped a few times, more over when the canvas caught the snow, it would absorb and his feet would get freezing.

 

20160212133932

AuebtDLxFP8OrZ1FsSn3Fs_e1tuwPnfy2O7rGNnE6nGE

There was literally nothing in this place, but a person who manages entrance fee and the lake itself. No toilet nor cafetaria, so you better have your break before this or prepare to have it after. Almost all the places in Iceland precaution the visitors to visit at our own risks, and hospital is usually far from all these attractions. So, better be careful. Better safe than sorry!

We had lunch on the way facing the good view and continued to Selandjafoss

Al4SEq8tr6qzSDQdRGbu3InbgekZ0LfkRVA76vfQgbIk

Satisfied with what we saw, we drove to our stay in Hvollsvollur for like an 1/2 hour. This night is the night where we saw the dancing light in the sky and second time we saw aurora. We woke up at 2 am and drove to a quite place where there were no lights disturbing our sights.

Day 4

We drove from our stay in Hvollsvollur to the Sulfoss waterfall for an hour.  We spent around 1 hour and took some pictures.

AksQs4c63wtE22em3xEn-R9HCmARYKOLOpsE_sVF18qR

We then continued to Black beach which is located in the village Vik. The black sands in the side street greeted us, then we knew we were nearby the place.In 1991, the US journal Islands Magazine counted this beach as one of the ten most beautiful beaches on Earth. Its stretch of black basalt sand is one of the wettest places in Iceland. The cliffs west of the beach are home to many seabirds, most notably puffins which burrow into the shallow soils during the nesting season (source: Wikipedia).

AiIFDmyUWq8_W-x3QTJpEYQhVWl_AtVd_p3N76zrr7EZ AgU51IG_nYMDzXpC8QumumSD8KIsPqK4slmtCz-_u6tx

Here Damar bought me a postcard, as I have been collecting for sometimes. You could see little cafetaria and toilet, please please optimize the toilet when you see it, because it’s not easy to find a toilet in the street. Or you have to stop and pee in the snow, it’s obviously no problem for boys, but it’s difficult for me.

After we did the routine in the stop, took pictures etc, we went to Skaftafell. We did not go to the national park, we went to Svinafellsjokull glacier instead. The Svinafellsjokull ( ” Pigs Mountain Glacier “) is a small glacier tongue of the huge Vatnajökull in the south of Iceland. The Svinafellsjokull sandwiched east of the Hafrafell and west of the mountains Svínafellsfjall . The melt water via the Svínafellsá and then Skeiðará discharged to sea . This Skeiðará flows with very many arms by the huge Skeiðarársandur. (Source: wikipedia). I suggested to arrive there before getting dark because of the quite place and the slippery mountain. When  we were there, we saw a plate commemoration of 2 young people of age 23 who went missing after climbing the Vatnajokul mountain and saw the last time around the glacier area. Goosebumps got into me quickly..

We were there until sunset, it was beautiful. Not so many tourists in the area, no toilet, nothing, just the beauty of nature itself and a little parking lot.

AgQDwUQ0ioQnEEm1ZNOLJB0toqbxhFSg_4tH2qrmuinG

AuUa-rWDhBL7XRcBj0yfSSvygaW8viDug_3kKOC0BQQA

On the way back was a little scary, because the wind was really hard and I could feel the car moved by the wind to the other side. Moreover, the snow particles that were blown to our car direction made the sight radius was not more than 3 meters. It was super dark already and it was only our car in the long road, sometimes we would see another car passing us and then gone with the darkness by the split second. I was getting sensitive thinking that anything could have happened and would be difficult especially if you were alone so a few times when we saw a car pulled over and started their hazard, we would come over and asked if they were okay. Because that’s what we would have expected to be asked if we were in a problem. I think strangers don’t matter, because in the wild road, there’s no citizenship or shame, but humanity. Luckily, we could arrive in Hofn town safe and sound at 20.30.

Day 5

We had to drive back to Reykavijk and it was 4 hours distance. We had to entertain ourselves in that long journey, thankfully the road or traffic was far away from stress because the road was in a good condition and not so many cars. So Damar could enjoy the drive with his automatic engine car. We played a lot of things from charade to words guess to english dictionary. It helped quiet a bit to get us out from boredom and killed the time.  On our way to Reykavijk, we made a stop over at Jokulsarlon glacier, just half an hour from our stay in Hofn. 

We could see the seals swimming and we could see some frozen plates in the see surface. Very beautiful 

At7O8l88eEagrwvMaPBCoWql8kKB0kuWmFSK18l2vmNA

And we continued driving and dancing in the car……………….

Until we finally arrived to the most beautiful place we have ever stayed so far. It’s in the remote area, in the middle nowhere, but nature (mountain, sea where you can see the seals in the side playing). It is highly recommended! Because of its remote area, not so many human life there, hence not so many lights. It was really dark after the sunset.. Very peaceful. And you could easily find aurora without having to drive somewhere else. You could just jump outside and witness the powerful earth beauty. That is what we did in the midnight….. Damar made a beautiful timelapse that we will share in our wedding invitation video 🙂

Here is the link of the airbnb place click

Day 6

The next day, we just relaxed and did nothing in the stay. In the morning,  Damar and I went to the supermarket (20 mins from our place) to buy some groceries for Barbeque night as the stay is equipped with proper electric grill in their veranda. We went back and enjoy the hot tub until the sun was set. What a relaxing last day.

ArKUlUdMyg7zPSx8I1SLPXotY3_gQSQ7UmVmuhPFsv2w

Day 7

We get ready to go to the Blue Lagoon, a must go place in between the airport and Reykavijk. We had to drive like an hour to get us to the lagoon. We got the timeslot at 10 in the morning, just when it’s open. Note: Always book the entrance ticket far away in advance, don’t risk and buy it there, the chance for sold out is incredibly high. The price is 55 euro, I just noticed I did not put this on the expenses. Oops! We took the comfort package contains towel, a drink, complimentary silica mud and algea masks. While standard was really only the ticket to get in. Comfort package is definitely worth it!

Reserve the ticket here

Another tip is to not wear lenses as the sea salt water could melt the lenses and got you a sever eye irritation. I read this before I went there, and it was worth to know, because even with bare eyes it very hurts to have a contact with the water. Also, bring a bottle of water for drinks to prevent from dehydration.

Blue Lagoon is the best way to close this trip, we went off happily and relaxed!

AkHGE3dOqq3q5HAUzSgeIyV1abMGLbq26KXU3r3PNcbo AqQUiKAnz_KJ16jtqgQCnXMYedwW28bET9HEPZIrHn_T

Day 8

Off we go home!!!! For me, this is a very memorable trip. Not only because I came back engaged, but also because everything I experienced in Iceland was like no others.Up until recently, Iceland had been off the radar! With tourism on the rise, GO NOW before too many travelers find out about it! All weather are amazing! What is also fantastic about Iceland is connecting with other nationalities from all over the world, which gives Iceland a true international flavor.. It is one safe and convenient travel where everybody speaks english properly. Do not worry for a thing, Iceland is very developed and rich.

Read a nice Huffington Post 12 Things I love about Iceland article

Dreams Europe Iceland Love life Milestone Wedding Series

And under the Aurora he bended knee

12th February 2016 - 4 min read

It was the second day of our trip when Damar set up his tripod and camera outside to create a timelapse.  I was waiting and falling asleep on the couch while he was busy with his camera, so did his siblings.

1 hour later, he got hysterical when he discovered his camera caught the aurora passing by the sky. He knew that in midnight it would appear again. He got me all excited in my exhaustion and sleepiness. It was 23.00 pm.

I went to the bathroom, brushed my teeth, cleaned up and changed to pajamas, got ready to sleep. Couple of minutes after, Damar was coming and half screaming saying that the Aurora appeared again and asked me to change and get ready to go out. I was super lazy, but then I remembered why I came to Iceland, this might be the only chance. So I quickly wore my socks and winter gears. We tried to wake Damar’s siblings but they did not move, so we took the car and went out to the quite field, just 5 mins from our stay.

The aurora was there, not that strong but I could see a little bit of the lights. I knew it was not a normal cloud or sky. It was the spectacular show of the earth, it was THE aurora. While Damar was busy setting up his tripod and camera, I was busy admiring the sky. He set the timer and came to me, we took picture together facing the aurora. What a dream comes true!!

He went to the camera and set the timer again while I was still busy facing the sky. He came next to me…. and all of the sudden, there he was bending on his knee…………………… I looked at his face, he was looking at me with his usual loving sight, haltingly making his promise to me through his beautiful speech. I could not say anything, but cried.

Did not see that coming..

And the questions came, he asked ‘will you marry me?’. I said firmly ‘YES’.

And yes, we are engaged. We are getting married. This year.

I am very grateful that I am going to marry a man of my dream. Someone who never is selfish, care about my opinion, and ultimately about my dreams. He apparently planned this for quite a while. The ring he chose was also something that I always wanted, 3 stones vintage art deco ring from 30-40s. I am one lucky woman 🙂

The happiness is beyond measure. Alhamdulillah…

It’s the start of our journey. I cannot wait to start the life with him.

AhCwX_BymjwO6xvEktDN4pTG2lAo9pPhafv7Q41rbN9r

Aqiw1_TuSSH34c5c0D3IWcr0smXApxiuXBRskOc_5Ael

AoHtYVjDoYjKKwzONTRNvtnLOiiFLK16yM3JFeaRNqV_

 

 

Dreams Milestone Self growth

Malam Pergantian tahun 2015 ke 2016

2nd January 2016 - 5 min read

Akhirnya sampai juga di penghujung tahun 2015. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Kata Einsten, waktu itu relatif dan sepertinya kecepatan itu tergantung seperti apa kita menikmati perjalanannya.

Malam tahun baru kali ini aku habiskan bersama keluarga, mumpung mbak Fany lagi dateng dari Scotland. Kami sekeluarga makan malam di tempat mba Indah dan keluarga. Alhamdulillah, dikelilingi orang-orang baik yang suka ngasih makan cuma-cuma haha dan paling penting sebenernya masih punya orang-orang dekat untuk berbagi kebahagiaan merayakan pergantian tahun. Sederhana tapi bermakna.. Sudah beberapa kali aku merayakan diluar, dingin-dingin kehujanan dan bingung pulang haha. Di Belanda, kebanyakan orang merayakan pergantian tahun dengan pesta di club atau di rumah sambil minum-minum. Besok paginya, jalan langsung sepi karena hampir semuanya masih hangover di kasur mereka masing-masing 😛 Kali ini aku cuma ingin merasakan hangatnya selimut kamar dan keluarga di sekitar.

Biasanya firework paling besar ada di Rotterdam. Satu-satunya firework yang di organisir pemerintah. Dulu waktu aku pertama kali ngerayain NYE di Belanda 2009, ramenya bukan main di daerah Erasmus Bridge, bahkan ada DJ segala. Tapi semakin tahun, acaranya diperkecil karena anggaran pemerintah yang dipotong.

Sebagian besar dari tahun baruku, aku rayakan di luar rumah, bersama teman-teman atau di negara lain. Kali ini aku menikmati pergantian tahun, pukul 00.00 tepat di kasur kamar, sebelahan sama mbak Fany sambil nonton film dan menikmati firework besar diluar yang dinyalakan tetangga-tetangga atau warga sipil. Orang-orang yang mampu dan meluangkan waktunya untuk modal beli kembang api sendiri 😀

Banyak banget yang terjadi di tahun 2015 dan begitu juga pelajaran hidup yang bisa aku ambil. Alhamdulillah banyak resolusi-resolusiku yang berbuah menjadi atau hampir menjadi realita. Tapi ease requires a hardship, banyak juga kegagalan yang aku lewati yang akhirnya membentuk aku menjadi seorang perempuan yang tahu apa yang dimau dan juga lebih kuat.

Break up adalah highlight terburuk yang sama sekali nggak pernah aku sangka. Aku ngerasa gagal menjalankan komitmen yang sudah aku buat, bukan kepadanya, tapi lebih kepada diriku sendiri. Dan kegagalan ini, adalah awal dari perjalanan kami masing-masing yang aku yakin berakhir di tempat yang baik dan seharusnya. Perjalanan yang tanpa aku sangka-sangka membawa aku ke Damar… Dan itulah, highlight terbaik.. bertemu dia. Alhamdulillah. Kedengarannya kontradiktif yaaa.. tapi itulah hidup. Penuh dengan misteri. Mudah-mudahan rencana-rencana kami ke depan dimudahkan aaamiiin yarobbal alaamin.

Tahun 2015 adalah tahun yang istimewa karena setelah 5 tahun berturut-turut nggak kumpul satu keluarga komplit, akhirnya kita semua bisa berkumpul di Belanda, tanpa kurang suatu apapun. Aku bisa memenuhi travel destination yang aku tulis di awal tahun. Andalusia adalah salah satu yang paling berarti, lebih spesial karena aku bisa membawa kedua orangtua-ku dan kakak perempuanku menikmati sejarah Islam di sana berbarengan. Tempat-tempat tujuan yang aku tulis di jurnalku adalah Portugal, Luxembourg, South of Spain (Andalusia), French Riviera, Hungaria, Indonesia.. Semuanya tercapai. Bahkan ada beberapa yang nggak ada di listku yang bisa aku datangi. Gak henti-hentinya bersyukur dikasih kesempatan untuk melihat keindahan ciptanNya. Oh tapi ada satu yang belum sempat dikejar di 2015, pergi melihat Aurora di Iceland…. But I’ll get there in 2016 with my better half 🙂 Really looking forward to it. “Percaya pada mimpimu sendiri, karena kepercayaan itu sudah membawamu setengah jalan ke tujuanmu” – MSI

Di bawah ini meng-capture best nine foto-foto yang aku upload di instagram, yang artinya kurang lebih merupakan momen-momen terbaik selama satu tahun.

Dari kiri – kanan = 1. June: Di Amsterdamse Bosch, ngelihat ratusan pohon sakura yang lagi mekar 2. Desember: Akhirnya ngecat rambut setelah 24 tahun penasaran, it’s not so bad. Cat rambut untuk menyambut tahun yang baru 🙂 Kerjaan baru, rambut baru, semangat baru 3. September: Moments of being an aunt 4. December: Strolling a day before his birthday. Strolling in Amsterdam has never felt so good and romantic 5. April: Menikmati Venice-nya Belanda (Giethoorn) for my best friend’s farewell.  6. September: Imron reunion full team 7. 2014, throwback a great time in Lucerne, Switzerland 8. September: Di salah satu pintu di Malaga 9. Januari: Luxembourg trip with Enschede mates  whom by now are all back in Indonesia. 

 

IMG_3622[1]

Aku percaya banget sama teori menuliskan mimpi-mimpi di catatan. Karena, nggak ada perasaan lebih menyenangkan daripada sukses mencoret rencana-rencana dan mimpi-mimpi itu. Sekali mencoret, beribu kali memotivasi untuk berani bermimpi lebih jauh dan memahami bahwa tidak ada yang tidak mungkin.

WELCOME 2016, I am ready to make my dreams this year come true 🙂

Asia Dreams Family Indonesia

Dimensi Lain Bernama Indonesia part 2

1st December 2015 - 4 min read

I am celebrating almost a year of my Indonesia journey occurred last December. This post dedicates to recall the beautiful moment I spent with my family. I told a lot about my boyfriend – now ex boyfriend – but not so much about my family. And I promised to  continue writing about my trip as the part 2 of Dimensi Lain Bernama Indonesia part 1. So here you go…

It has always been my dream and my life goal to make my parents happy. Can not do a lot, but at least I wanted to take my parents to a short getaway trip, to have a quality with them and relax together. Although such thing can’t really happen when my mom is around 😛 😛 I had planned this along the way, after I booked my flight, I immediately asked my dad for some destination options. The options that time were Madura, Bali, and Banyuwangi in which my dad decided for Banyuwangi because he knows someone from a group he is currently in, called Friendship Force International. This ‘bapak’ is also an active member of the organization. He is a photographer who happens to own a ecolodge called Baloeran Ecolodge. He is passionate about wildlife in East Java and he’s the permanent residence of Baluran National Park, meaning he stays for days or weeks inside the park or Savanna area to catch momentum. He succeeded in capturing many rare events, the presence of White Tiger and Panther as well as Tiger, a fight between Eagles, etc. They are all hanging in the wall of his Ecolodge. Him and the Ecoledge is super recommended, staying there giving the feeling of being local. It felt like home complete with the local wisdom from the residents around.

We took a short flight to Banyuwangi airport called Blimbingsari. SUPER TINY airport, smallest I have ever seen. We literally walked not even 50 meter to get to the parking lot. But I believe a good thing comes in a small packages, the airport is new, and I am certain Banyuwangi has a lot of potentials especially from tourism. What I like about going with locals (Om Nurdin himself guided us throughout the whole journey), we’d be shown non mainstream place. Like the one below:

 

IMG_0051_resize

IMG_0136_resizeIMG_0071_resize

IMG_0137_resize

IMG_0054_resize

IMG_0050_resize